Thursday, September 17, 2009

Seni Melempar Bola

Pernah main sepak bola? atau bulu tangkis mungkin? Atau jangan-jangan ga pernah olah raga sama sekali?? (rolling on the floor) Kalau kita liat, setiap pemain pasti langsung menangkis atau menendang bola begitu bola itu sampai kepadanya. Yang ingin aku bicarakan, bisa jadi adalah sesuatu yang penting dalam dunia kerja, sesuatu yang ga kita sadari terjadi dan harus kita biasakan, dan bisa jadi nyentil banget buat pembaca yang sudah biasa punya attitude "lempar bola". Ini semata pandangan pribadi, dan semoga tidak ada yang tersinggung yah (big grin) Semoga aku tetep bisa nulis dengan pandangan obyektip (winking)

Setuju ga kalau aku bilang, kebanyakan orang yang bekerja menerapkan seni melempar bola? Begitu ada tanggung jawab yang diberikan ke kita, kita buru-buru selesaikan bagian kita, lalu kita lempar tanggung jawab ke pihak selanjutnya yang berwenang. "Mau tuh tanggung jawab dilaksanakan sama pihak tersebut atau ga, yang penting bagian gw selesai!"

Well, buatku, tanggung jawab bukan seperti sepak bola, yang bisa dilempar seenaknya. Bahkan dalam sepak bola pun, kita liat dulu kan, ke mana bola kita akan dialihkan. Kalau ga ada yang bisa nerima bola kita, yah kita giring aja ke tujuan kita, yaitu gawang lawan. Sekarang, kalau kita bandingin sama kerjaan kita, mungkin jalan yang paling enak untuk kita, yah selesaikan tugas kita, terus kita alihkan selanjutnya ke orang yang seharusnya. Misalnya dalam suatu tugas, kita bertanggung jawab untuk melakukan A, lalu setelah itu bagian B bisa dikerjakan oleh X, bukan berarti setelah kita menjalankan A, lalu kita bisa lepas tangan, "kalo belon selesai di X, yah itu salah dia.." Saat kita terlibat di suatu tugas, sebenernya kita punya andil, besar ataupun kecil. Mau kita dianggap berperan atau pun tidak oleh orang lain, kita punya amanah. Jadi jika tugas itu selesai dengan baik, maka kita juga bisa merasakan percik keberhasilan. Dan, kalau tugas itu ga selesai di X, itu juga salah kita, karena kalau saja kita bisa melihat keadaan dan memposisikan diri kita melihat secara luas, maka harusnya kita bisa 'menggiring bola' ke tujuan yang memang direncanakan dari awal. Bukan berlomba mencari siapa yang salah atau benar, maupun berstatus don't care.

Memang betul, kadang kita ga punya waktu untuk berpikir untuk 1 tugas itu saja, dan akhirnya yang penting buat kita; bagian kita selesai, selanjutnya bagian orang.. Tapi bagaimana jika orang itu memang sedang tidak siap menerima "bola" dari kita? belum siap melanjutkan menggiringnya menuju gol? Apa akibatnya kalau kita kasih juga tuh "bola"? lepas ke tangan lawan bukan? yang berarti gagal mencetak gol bukan??! (thinking)

Pertanyaan yang muncul, "lho terus gimana kalo gw harus mencetak gol untuk banyak bola? kan ga bisa kalo gw yang giring semua bola itu kan? harus di-over dong.." setiap orang hidup dihadapkan dalam pilihan. Pilihan di tangan kita, kita pengen sekaliiiiii saja mencetak gol atau memastikan satu bola bisa gol, atau mengemban resiko bahwa bisa jadi semua bola itu tidak gol karena kita lepas tangan setelah bagian kita selesai. Life has never been easy (cowboy)

Sayang yah... kalau ternyata di dunia kerja, hampir semua orang masih menerapkan seni "melempar bola", padahal bisa jadi kita menjadi pencetak gol. Kalaupun kita tidak jadi pencetak gol, yang namanya gol, kita tetep dapat hadiah di dalam tim bukan? kemenangan hati (thumbs up) Semoga kita bisa tetep memegang prinsip dan pribadi kita. Toh tidak semua hal yang terlihat benar, adalah baik, dan tidak semua hal yang terlihat baik, adalah benar... (smug)

n.b. semoga aku belum khilaf, berlaku egois dalam team work yah. kalau ada yang pernah kecewa, mohon maaf.. jangan kapok team work ma gw (big grin)

Saturday, September 05, 2009

Hijab itu...

I wanna cry to write this. Tepat setahun niat berhijab akhirnya terlaksana.. Alhamdullilah (happy) semoga bisa selamanya.
Bukan maksud aku untuk jadi orang yang terlihat benar, tapi ini hanya sekadar sharing, ga lebih.. (jarang-jarang nulis pake 'aku', jadi kagok, hahaha (rolling on the floor))

Setahun lalu, ada satu keinginan yang kuatt.. sekali. Dipicu dari keinginan itu, aku melirik peluang untuk ber-nazar (tau kan yah? semacam janji ke Tuhan, kalau keinginan kita dikabulin, maka kita akan melakukan sesuatu.. CMIIW), siapa tau kesampean, huehehe.. (big grin) Entah kenapa, yang terbersit di pikiran itu, berhijab..

Dan memang selama beberapa tahun terakhir setelah terjun ke dunia kerja, aku ga ngerasa nyaman dengan bagaimana orang melihat, terutama lawan jenis. Yah jujur aja, rasanya kaya di-scan. Belum lagi komentar-komentar yang aku pikir itu ga etis diucapkan, bagian-bagian fisik dikomentarin tanpa batas. Aku pun ngerasa seperti tertampar (bukan lagi tertegur, tapi tertampar!(feeling beat up)), "lo sendiri bagaimana berpakaiannya..??" yah memang salah aku juga kali yah, yang mungkin terlalu cuek jadi orang..

Dari yang niatnya cuma biar keinginan terbesar aku waktu itu dikabulkan.. aku mulai tertarik, aku lirik-lirik, bagus bener temen-temen yang uda hijab, rapih, rasanya aman dan dihormati. Selama aku memperhatikan, seyogyanya laki-laki yang tau bersikap, pastinya malu punya mata yang kaya scanner untuk perempuan yang jelas-jelas berhijab, "jelas-jelas gw menutup aurat, berarti kalau kalian laki-laki yang tau sikap, pastinya punya malu untuk melihat dengan cara seperti 'itu'." (shame on you) kira-kira seperti itu.. Ga percaya?! coba perhatikan kalau lagi di jalan-jalan, atau di bus. Gimana mata laki-laki sekeliling kalau ada cewek lewat. Ga usa yang cantik-cantik banget, cukup yang rambutnya terurai, sama kaos ketat. Langsung deh di-scan.. parah yah (no talking) kalau kita jadi perempuan itu.. dan kebetulan kita sadar, jadinya ga nyaman.. ya kalaupun cewek berhijab yang diliatin (maksudku berhijab yah, ga cuma berjilbab), aku yakin 95% mereka bukan scanning, tapi berpikir positif, inget sama ibadah.. (kalau mereka muslim). just think positively..

Lalu, aku mulai memperhatikan bagaimana orang-orang yang berhijab, bagaimana aku memulai, dan bagaimana setelah itu.. apa aku bisa tahan untuk selamanya?! (thinking) Karena aku waktu itu masih ga yakin bisa bertahan lama untuk hijab. Apalagi aku cepet stress kalo kegerahan.. aku dulu masih berpikir jilbab itu bikin gerah juga..

Kemudian ada 1 rekan kerja yang akhirnya berhijab. Waktu kita pulang bareng, beliau cerita bagaimana jalan pikirannya mengenai hijab yang beliau lakukan waktu bulan puasa. Dimulai dari keseharian kalau datang pengajian, sampai mengumpulkan jilbab satu persatu. Dibarengin hal itu, ada 1 rekan kerja lagi yang bertanya, kok aku ga pake jilbab, padahal diwajibkan untuk perempuan muslim.. Aku ga kaget karena dia pria, aku ga marah karena merasa dikuliahin, tapi aku malah salut karena itu ditanyakan dengan jujur. Bahkan dia bersedia minta tolong kakak perempuannya untuk membantu aku kalau aku butuh bantuan memilih pakaian/jilbab (thumbs up) Aku memang nunggu momen untuk ngumpulin pakaian yang cukup menutup dan beberapa jilbab, masa pake jilbab tapi bajunya masih nunjukin semua lekuk.. apalagi jujur aja, dibandingkan orang kurus, lebih susah untuk orang gemuk memilih baju tertutup. ngerti lha yah.. hehehe

Berangkat dari hal itu, aku beli sekitar 3 jilbab dan mulai memilah-milah pakaian yang secukupnya tertutup. Beli baju baru kan mahal.. jadi mesti nabung dulu (laughing) Tapi satu hal yang paling mengganggu pikiran, apa yang terjadi setelah itu. Apa aku bisa menjaga niat ini terus? Bagaimana dengan pandangan lingkungan sekitar?? Bagaimana perlakuan mereka.. Karena sebelumnya, aku berpikir, hijab itu membatasi. Nanti malah banyak yang menjauh.. dikira fanatik atau sok alim.. atau ada pikiran yang bersifat mengadili.. kalau pake jilbab, harus bersikap gini gitu, ga boleh ini itu.. Apalagi aku orangnya ga suka ribet, pakaian sejadinya. Tapi aku pikir lagi, toh niatnya baik, sesuai seperti keinginan-Nya, insyaAllah lancarrrrr... (praying) Yang mengejutkan lagi, setelah aku mulai berhijab, banyak yang malah memberi support, dari hadiah-hadiah jilbab dan pakaian. Rejeki juga mulus-mulus aja, menghadapi masalah bisa lebih tenang, walau kadang masih terasa panik.. namanya juga belajar. hehe (smug)

Awalnya, terasa memang yang namanya keterbatasan. Apalagi waktu ganti baju di tempat ganti baju wanita. Kebanyakan perempuan yang tidak hijab, rasanya ringkas. Tapi aku?? rasanya ribet banget.. (nail biting) "istighfar, lam.." Lama-lama, rasanya nyaman.. yah ga sampe beberapa minggu.. Setelah beberapa hari uda nyaman sekali, malah bukan keterbatasan, tapi freedom! Salah besar kalau hijab membatasi, justru yang aku rasa, bebas-bebas aja tuh bergerak, ga ada yang matanya kaya scanner lagi. bebas-bebas aja mau kemana-mana, insyaAllah aman.. dan ga perlu lagi mikirin rambut berantakan ketiup angin, kena debu jadi kusut, lalu rontok gara-gara panas! (thumbs up) alah.. males banget harus mikirin rambut berantakan kaya singa (whew!) dan rasa gerah?? engga tuh.. wajar aja kalo cuacanya emang panas, ya gerah.. biasa aja. Malah kalau hijab, toh rambut juga diikat ga menyentuh leher, jadi ga gerah toh, asik toh?! enak toh?! hahahaha (laughing)

Terlepas dari itu wajib atau tidak, yang utama buat aku, kebutuhan. Sebenernya sudah lama Tuhan tau kalau manusia membutuhkan, karena itu diwajibkan. Tapi sayangnya kita sering sadar terlambat, bahwa kita butuh.
Nah, bukannya niatnya turun, malah makin lama makin terdorong untuk tantangan berikutnya. Shalat pengennya penuh (walau kadang masih sempet bolong.. (crying) mulai pengen menghafal lebih dari 3-4 ayat, dan ga cuma lafal, pengennya juga bisa ngerti artinya.. karena menurutku, ilmu yang paling benar, yah ada di Al-Qur'an semua.. dodolnya gw, uda tua gini baru mau belajar.. (laughing) dan target lainnya. Jadi, ini cuma awal... Yang pasti, rasanya sekarang bebas banget! (dancing) menyesal?! engga banget, malahan happy, satisfied, hehehe. Just think simply for something great and act, because it's just nothing if we're not doing that.

Selamat berpuasa.. mohon maaf lahir batin.. semoga puasa dan ibadahnya maksimal! (happy)

N.B.
btw, pinjam foto baby-nya yah, anak siapa pun ini.. lucu bener (big grin)

Monday, August 24, 2009

Belajar di Negeri Jauh

Bicara tentang beasiswa S2 ke luar negeri, mengingatkan saya ke 2 orang yang menarik. Kebanyakan mahasiswa atau bahkan pelajar biasa, baik yang basic-nya research maupun siswa yang penting waktu lulus bisa dapat kerja dan bisa cari duit, berminat untuk bisa mendapat beasiswa S2 ke luar negeri, termasuk yang nulis (winking). Terlepas dari tujuan utamanya, entah belajar ke pusat ilmu pengetahuan semacam Eropa atau tempat businessman yang bergengsi dan sukses semacam Amerika, ataupun jalan-jalan, karena dengan belajar ke luar negeri berarti membuka mata terhadap tempat dan budaya baru, sehingga secara ga langsung memperkaya diri.
Kembali ke 2 orang itu, 1 dari jurusan sastra, dan satu dari jurusan science, (dirahasiakan). Dua-duanya berasal dari ilmu pengetahuan yang berharga. Sastra malah bisa dibilang sumber dari ilmu pengetahuan, bukan sekadar budaya (seorang guru SMA pernah menjelaskannya).
Profil pertama, si sastrawan yang mendapat beasiswa 2 kali ke Jerman, "banyak orang yang bilang, wah hebat lo bisa ke Jerman, dapet beasiswa lagi. padahal ga seindah itu.." Cerita dari keinginannya belajar budaya dan bahasa Jerman, berujung ke keadaan bagaimana dia harus mengusahakan segala detil yang dituntut sempurna, seperti pengucapan, dialek, pemahaman, pemilihan kata, sampai banyak hal membuat kemuakan dalam dirinya, hasrat belajar menguap banyak dari dirinya. Namun, rasanya sudah terlanjur basah untuk melangkah ke hal lain. Dan jadinya, keputusasaan.
Profil kedua, si ilmuwan yang mendapat beasiswa ke negara di Eropa. Si tokoh ini benar-benar mengejutkan karena ga dinyana kalau ia mau menceritakan hal yang tidak ditanyakan, tapi untuk pembelajaran saya sendiri. Saat kita bicara ketertarikan saya untuk bisa berbeasiswa S2 ke Eropa, ia menceritakan bagaimana di saat ia menuntut ilmu, ternyata ia harus kehilangan hal yang sangat berharga untuknya, ibu. Kehilangan yang terjadi di depan mata saja sudah berat, apalagi di tempat yang jauh yang untuk sementara tidak dapat dijangkau. Karena itu pilihannya, pulang dengan beberapa resiko, atau terus menuntut ilmu dengan hati yang hancur. Menangis tidak bisa, menikmati impiannya juga tidak bisa.
Dari 2 cerita itu saja, sempat membuka mata saya apakah sebegitu berharganya kesenangan semacam itu yang bahkan belum bisa dilihat kemungkinan setelah itu. Kekayaan akan ilmu toh tidak hanya dari bangku kuliah. Kesenangan akan adventure toh juga tidak hanya dari penerbangan dan visa gratis ke berbagai negara, dengan makna bahwa saya ga punya uang apa-apa selain beasiswa, sedangkan keluarga di ujung sana bisa jadi kelaparan.
Jadi... kalau ditanya sekarang, walaupun diberikan gratis tanpa harus ada usaha besar, saya perlu berpikir lama lagi dan bahkan mengatakan, cukup deh. Cerita dari tokoh kedua cukup menjadi tamparan yang berharga. Salut untuk kesediaannya. Semua jatuh pada pilihan pribadi masing-masing. Perlu ada alasan yang setara berharganya untuk diperbandingkan atas semua yang ada di depan mata... well, itu untuk saya pribadi (big grin)