Tuesday, May 19, 2015

Tentang Bubur Ayam dan Main Stream

Saya merasa yang akan saya share kali ini agak absurd. Tapi... sepertinya menarik, secara subyektif (happy)

Dari awal saya mengenal bubur ayam, ketika saya masih kecil, saya diajarkan untuk memakannya dengan mengaduk buburnya terlebih dahulu, agar bercampur dengan suwiran ayam, daun seledri, kecap, kuah kaldu, lada, kacang kedelai/tanah, dan bahkan dengan kerupuk dan sambal. Umm.. terdengar nikmat yah, bagi yang suka (happy) Tapi rasa itu malah membuatku merasa eneg. Anehnya hampir semua orang melakukan hal yang sama dan menikmatinya. Saya rasa bubur dan pernak-perniknya rasanya enak, lalu kenapa mencampur semuanya menjadikannya eneg untuk saya?! Saya memutuskan, memakan bubur ayam tanpa mengaduknya, dan saya malah menikmatinya. Masing-masing rasa dari ayam, kacang, kecap, lada, daun seledri, dan buburnya, lebih terasa di setiap suap buat saya. Kerenyahan kerupuknya membuat saya mengabaikan lembeknya bubur sehingga tidak eneg. Semua punya rasa, dan buat saya itu kaya... I have my own way to do it.

Sampai saat ini, setiap saya tanya ke teman-teman sekeliling saya, baik di kantor atau dimanapun, mereka masih mengaduknya, dan justru buat mereka itu lebih enak. Yang saya mau share, bukan tentang bagaimana makan bubur ayam agar bisa menikmatinya. TAPI... bagaimana kita mencari kenikmatan itu sendiri dengan cara kita sendiri tanpa harus menerima doktrin atau penanaman ide dari orang lain. Bagaimana.. jika kondisinya seperti ini: 
- Kita tidak pernah mengenal bubur ayam, namun kita disajikan makanan tersebut.
- Kita tidak diberitahukan cara memakannya. Hanya ada semangkuk bubur ayam, sendok, sepiring kecil kerupuk, dan tempat sambal.
- Kita tidak bisa bertanya ke siapapun bagaimana cara memakannya dan apa rasanya.
Apa yang Anda lakukan..? Silakan dibayangkan sendiri (happy)

Hmm.. Mungkin hidup kita terlalu sederhana, cara hidup diajarkan turun-temurun. Mungkin kita pun berpikir sederhana, melakukan yang orang lain umumnya lakukan agar hidup terasa mudah, tak perlu berpikir berbeda agar tak mendapat kesulitan. Kelihatannya mudah yah (happy)
Tapi, apa kita sadar, kita menjadi serupa dengan orang lain? Orang bilang bumi itu bulat, kita ikut.. Orang bilang bintang itu segilima dan punya lima sudut runcing, kita hayu... Kalau semua orang seperti itu, ga akan ada ilmu bumi yang menunjukkan bentuk bumi pepat di kedua kutubnya.. ga akan ada ilmu astronomi dan para astronot..

And that's the point. Saya bukan orang yang membenci main stream.. Tapi saya orang yang suka curiga, semakin suatu hal menjadi main stream, semakin saya curiga apa itu satu-satunya stream (arus)..? Ga ada cara lain yang lebih baik? Segitu desperate-nya kah kita mencari cara lain? Segitu tidak kreatif-nya kah manusia dicipta dengan akal pikiran yang diberkahi Tuhan? Well, I don't think so.

Di akhir post, saya mau menceritakan sesuatu yang bisa kita bayangkan masing-masing.
Di suatu desa, ada satu sungai yang lebarnya tidak terlalu lebar dantidak terlalu sempit. Airnya jernih dan arusnya lumayan kuat. Sungai ini mengalirkan air ke laut. Awalnya, banyak ikan yang melalui sungai itu, entah untuk migrasi atau mencari pasangan untuk musim kawin. Suatu masa, sungai itu sungguh patut dikasihani. Banyak pemburu ikan dan juga ibu-ibu mencuci pakaian dengan detergen berbahaya bagi makhluk sungai. Belum lagi, lumpurnya sudah makin menumpuk dan membuat sungai itu dangkal. 
Menurut Anda, apa yang sebaiknya ikan-ikan itu lakukan? Mencari arus lain? Karena ikan-ikan lain mulai beralih ke arus lain jadi sebaiknya diikuti saja? Atau karena sungai itu mulai dirasa tidak nyaman dan berbahaya, barulah mulai mencari arus lain? Bagaimana jika waktu hampir habis? Seperti halnya usia kita yang terbatas? Kenapa tidak dari dulu sewaktu sungai itu terasa nyaman? Kita mungkin bertanya, "Siapa yang tahu arus selain di sana tidak berbahaya?" Tapi bagaimana jika sebaliknya, "Siapa yang tahu arus selain di sana justru jauh dari habitat manusia, masih alami, dan jauh lebih aman untuk dilalui..?"

Tuesday, January 06, 2015

Anyang-anyang (Infeksi Saluran Kemih)

Sudah lama mau share tentang ini, tapi tidak jadi-jadi.. (big grin)
Beberapa bulan lalu (sebenarnya akhir 2 tahun lalu), aku lagi banjir kerjaan, sampai-sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk ke "belakang" dan melakukan pembuangan air seni, a.k.a. ditahan.. Dan akhirnya, berakibat menderita Anyang-anyang. Setiap kali membuang air seni, perih dan nyeri bukan main.

Akhirnya.. aku ke dokter. Setelah ke dokter urolog, menceritakan keluhanku, aku diberikan obat antibiotik standard sambil melakukan tes bakteri urin juga. Walaupun bakterinya belum ketahuan, tapi kata dokter, obat tersebut seringkali membantu karena sesuai dengan bakteri yang sering menyebabkan infeksi tersebut. Seminggu kemudian, sakitnya sudah memudar dan aku kembali ke dokter untuk mengecek jenis bakteri tersebut. Ternyata.. seperti dugaan dokter, bakterinya benar dan antibiotiknya sesuai.

Tapi.. beberapa bulan kemudian setelah itu, infeksinya kembali muncul, dan aku jadi ragu untuk ke dokter. Karena setahuku, semakin banyak obat dikonsumsi, apalagi antibiotik, semakin kebal bakteri yang ada di tubuh kita (kalau masih ada). Jadi... saya googling sampai menemukan banyak saran, minum air jeruk nipis! Ya! Dan saya mencoba menerapkan hal tersebut. Saya minum air hangat dicampur perasan jeruk nipis 2-3 kali sehari. Selain air jeruk nipis bisa berfungsi untuk detoks, air jeruk nipis juga alami, bukan..?! (happy) Bagaimana jika kita penderita sakit maag? Saya pun penderita sakit maag... Setelah mencari tahu, air jeruk nipis tidak menyebabkan sakit maag, asam yang terkandung di dalamnya tidak berbahaya.

Dan itu mujarab.. dalam 1 minggu, sakitku berangsur hilang.. Dan sampai sekarang, tidak kambuh lagi. Tentunya, tetap menjaga kesehatan seperti menjaga kebersihan daerah sekitar "itu", tidak menahan B.A.K., dan juga banyak minum air putih hangat (happy)
Untuk rekan yang juga menderita hal tersebut, saya rekomen obat alami ini.. Air Jeruk Nipis (happy)
Namun, jika sakitnya masih berlanjut.. Hmm.. Mungkin kita butuh bantuan dokter juga (big grin)

Monday, September 29, 2014

Newspaper's Clipping That Slaps Me

Hmm.. Start from where.. thinking This changed me 180 degrees from my early thought of people.

In the time I was in high school, there's an assignment, in group, to made newspaper's clipping about some topic that I can't remember. Well it was long time ago.. I'm a person who can't easily trust anybody, my parent has taught me since I was a kid. With this group consisted of people I didn't know better, of course I had no trust about them, and also knew nothing about them.

We had 2 weeks to finish this assignment. There's no discussion about who's the leader, what would we do first, where we could do our assignment together, when, etc. It was all in silent until 1st week passed. I am a person who get used to this all... the time, in many group assignment and I am sick of it. I gathered many newspapers since first day I got this assignment, ALONE. I was waiting for the others paper / clip. I wished they realize their own job and try to cooperate. Yes... COOPERATE. Three days to go.. nothing happened except one guy gave me a lot of newspaper.surprise Are they nuts?!

I was a person who hardly argue and often choose to keep quiet, at that time. I took the newspaper home, collected the news we need, cut that one by one, glued the clips in HVS, and binded it into a nice clipping, ALONE, helped by my mother who sadly saw me in that condition. I did this till 2 AM in the same day my group should submit the assignment.

I remember her words, "Kamu lebih tega ngeliat Mama ngerjain gini sampe malem dibanding ngeliat temen-temen kamu," (You could see me doing these things until late rather than your friends. How could you?!). And... My heart was broken. I had no idea why I did that..

Many things I learn since that day..:
- Learn to trust people, including friend. They also human, like me, have weakness, have strength. Everybody is SPECIAL with his/her own way.
- Do SPEAK! Try to talk about this, group assignment should be done together... not alone.
- No hard feelings.. no negative thinking.. no assumption.. BE OBJECTIVE
- Cooperating even can break the wall... It has POWER.
- Just be SINCERE. It doesn't matter you get your payback or not.. We'll get it somehow in the other form. Trust me.. That's the way it is..

Yes I am still the person who hardly trust people, but I am now easily learn to trust people, because I also want to be trusted. I put other's trust in the highest place.. I was betrayed many times, then what.. I can't generalize all people in my own frame, subjectively.

That's what I learned. Hopefully useful for people who read this..happy
I am still memorizing it till now.

Tuesday, July 22, 2014

Gigi Termudaku

Sudah lama tidak posting, malah menulis tentang gigi (big grin)
Yup, akhirnya 2 minggu lalu aku memberanikan diri untuk melepas gigi bungsuku sebelah kanan. Sepasang..
Diawali dari hasil medcheck 2 tahun lalu, aku didiagnosa ada impaksi, gigi bungsuku tidak tumbuh baik dan bisa menyebabkan masalah. Entah ke syaraf atau gigi lainnya. Memang seringkali muncul nyeri, rahang bagian bawah sebelah kanan sedikit bengkak dan kadang kambuh nyeri, dan makanan suka nyelip di belakang. Kalau sudah nyelip, waduh... Bisa nyeri banget.. (crying) Jadi harus berhasil mengeluarkan yang terselip dengan sikat gigi. Plus, gusiku selalu berdarah. Dan sepertinya lokasinya di belakang.. Dan kata drg, sisi belakang sudah mulai hitam karena ga terjangkau untuk disikat..

Alhamdulillah dapat dokter gigi dekat kantor daerah SCBD yang bagus dan buat hati nyaman. Namanya drg. Nunik. Ibu berjilbab yang smart dan lihai mengobati gigiku. Tapi untuk gigi bungsuku, beliau minta aku untuk rontgen panoramik dulu. Jadi, baru tahun ini (2014, setelah medcheck 2 kali dan dentist nya selalu mendiagnosa impaksi) aku rontgen. Ternyata ada yang tumbuh tidur di sebelah kiri (surprise) padahal yang kanan yang lebih sering nyeri.. Well, aku perlu konsul dulu ke dokter gigi.

Setelah ketemu dr. Nunik, beliau menyarankan ke drg spesialis bedah mulut (SpBM). Setelah siap dioperasi, beliau akan panggil drg SpBM. Hmm.. kayanya aku takut deh kalau aku harus langsung dibedah tanpa tahu dokternya dulu.. (worried)
Setelah cari tahu di Google, ada juga drg SpBM yang bagus di Depok. Beberapa testimoni positif. Umm.. Beliau juga terlihat berpengalaman dan baik.. Beliau drg. SpBM Ika Ratna. Karena tempat prakteknya yang deket dengan rumah adalah Sentra Medika Cisalak, jadi aku ke sana. Beliau praktek di Sentra Medika Selasa dan Jumat jam 7 malam, dan di Graha Permata Ibu.

Awalnya konsultasi di minggu sebelum puasa. Dan sarannya seperti drg Nunik. Di-ca-but (sad) dan sarannya sebaiknya pasangan atas / bawah nya juga dicabut, karena alaminya gigi yang sendiri akan mencari gigi pasangannya, nanti bisa memanjang.. seremmm deh (worried) padahal giginya katanya bagus tertata.. Hanya saja yang belakang tertahan tulang, jadi akan terus memaksa tumbuh walaupun tertutup tulang. Ada juga satu gigi yang tumbuhnya tidur..

Di akhir konsultasi, beliau memberi resep antibiotik yang diminum sehari sebelum tindakan dan obat pereda nyeri Ibuprofen yang diminum nanti setelah tindakan. Aku juga diminta makan malam dulu sebelum tindakan. Kalau sudah siap, dipersilakan minum obatnya.

Malam itu aku beli obatnya sambil memantapkan hati. Suami sudah pernah dicabut gigi bungsunya. Jadi setelah mantap mau dicabut, dan mantap dengan drg SpBM ini, aku janjian untuk tindakan 1 minggu kemudian. Dan itu bulan puasa. Aku kuatir semakin parah, dan kata drg Ika juga ini seperti bom waktu, bisa mengganggu lebih parah lagi (nail biting) jadi tak apa deh di bulan puasa.

Pada hari H, aku minum obat antibiotik pagi hari. Malamnya, siap dicabut. "Kita mulai ya.. tenang aja kita santai. Kalau terasa sakit, bilang pakai tangan, nanti ditambah biusnya," demikian kata dokter.
Dimulai dengan suntik bius yang nyeri menusuk... (I don't want to see) tapi kawan, semakin ditolak, rasa suntiknya akan semakin sakit. Jadi usahakan relaks dan banyak doa. Alhamdulillah ga lama suntiknya. Aku menunggu beberapa menit untuk kebal. Lidah jadi kebas dan gusi mati rasa. Drg mulai mencoba menusuk gusi dengan benda tumpul sedikit untuk menguji kebal.

Setelah mulai tidak terasa, mulailah pencabutan gigi dengan berbagai alat yang kalau aku ga dibius, bisa teriak kali.. (happy) Berhubung mulutku ga bisa buka terlalu lebar, jadi dicabut dari arah samping. Itu aja bikin mulut pegel.. sisi mulut terasa perih karena gesekan alat-alat, walaupun sudah dikasih Vaselin*. Kadang terasa sakitnya, dan aku memberi tanda ke drg. Langsung disuntik lagi agar tidak terasa sakit.

Karena gigiku dicabut atas bawah, maka pencabutan berjalan cukup lama, sekitar 45-50 menit sampai beres. Drg kayanya berusaha sekali agar lubangnya ga terlalu lebar supaya jahitannya kecil, tapi nyabut nya jadi butuh effort banyak. Terima kasih, Bu.. (happy)

Setelah selesai, sepertinya aku menebus biaya dokter, biaya benang jahit sama tampon (kapas yang dibalut perban untuk digigit di luka).. dan beberapa catatan:
- Tidak boleh hisap. Berarti termasuk ga boleh pake sedotan.
- Tidak boleh makan panas. Takutnya darah yang sudah membeku dan menutup luka jadi terbuka lagi.
- Tidak boleh memainkan luka dengan lidah.
- Tampon diganti kalau sudah basah.
- Jangan sering kumur, kecuali kumur dengan obat kumur Minos*p. Itupun aku cuma seperti mendiamkan larutannya di mulut. Ga berani kumur (big grin)

Alhamdulillah sekarang sudah ga terasa apa-apa. Awalnya... pipi cuma bengkak sedikit sekali. Habis cabut ga terasa sakit, cuma mengganggu saja.. sampai sekitar 1 hari saja. Terasa ada yang janggal.. yang terasa malah sisi mulutku.. terasa kering/sariawan akibat gesekan alat cabut gigi. Sekitar 1 minggu kemudian diminta kontrol luka ke drg dan potong benang jahit.

Sekarang rasanya tak ada apa-apa.. menunggu waktu untuk siap mencabut gigi bungsu sisi kiri, yang tumbuhnya tidur (big grin)
Jadi... Jangan kuatir.. (cowboy)
Semoga tulisan ini bisa membantu..
(happy)

Friday, March 02, 2012

Why Me ??

Hmm.. kali ini aku coba untuk sharing hal lain yang kadang sering terjadi pada kita.. "Why Me?", pertanyaan yang sering kali kita pertanyakan ke diri kita waktu kita mengalami hal yang tidak kita inginkan. Entah itu penyakit, musibah, dan hal lainnya.

Di saat kita melihat di sekeliling kita semuanya berjalan normal dan cuma kita seorang yang mengalami hal berbeda yang tidak kita suka, maka kita terus bertanya, "kenapa saya..?", dan mulai berspekulasi, saya salah apa, saya berbuat apa sehingga akibatnya seperti ini, dan seterusnya. Cape ga sih? tentu.. (whew!) Begitu juga pihak-pihak yang kita kasih pertanyaan.. Bukan itu yang ingin mereka lihat (jika mereka orang baik (big grin)).

Waktu kita akan habis cuma untuk mempertanyakan "Why Me?" dan mencari jawaban. Terus gimana? Kenapa tidak kita coba terima hal itu? Kenapa kita tidak coba terima bahwa kita berbeda dengan orang lain.. Apa yang kita alami bisa jadi tidak mampu orang lain hadapi. Dan percaya bahwa suatu hal terjadi pasti ada hikmahnya. Mungkin kita tidak akan memperoleh jawabannya sekarang, atau selamanya, tapi kita dapat merasakan akibat positifnya jika kita mau.

Orang buta pun dibuat tidak melihat pasti ada hikmahnya. Tidak perlu ia melihat banyak hal buruk di dunia (walau banyak hal indah juga di dunia..). Selain itu, orang buta tidak sendirian. Ada beberapa orang di dunia ini mengalami hal sama. Hanya karena sekelilingnya bisa melihat, bukan berarti hidupnya orang buta jadi sia-sia, penuh kekurangan. Siapa yang tau apa saja kelebihannya.. (I don't know)

Jadi.. hentikan bertanya, jalani saja. Hidup hanya sekali dan banyak waktu akan terbuang dengan hanya memaksakan diri menemukan jawabannya. Aku juga sedang melakukannya. Mari sama-sama..... (big hug)

Saturday, July 03, 2010

Keingintahuan Manusia

Aku sempat berpikir bahwa manusia yang selalu ingin tahu itu annoying (yawn) "kenapa", "apa", "kapan", "emang bener", "siapa tuh", dan seterusnya... Bahkan kadang merasa bersalah kalau aku yang menjadi orang itu terhadap orang sekitar, walaupun niatnya secara tidak sadar karena semata aku peduli. (big grin)

Tapi tanpa disadari.. (thinking) setiap orang memang punya rasa ingin tahu yang besar, yang memang mendarah-daging, yah.. namanya orang hidup. Suatu proses pembelajaran dalam hidup, yang secara harafiah berarti dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar kan ga hanya urusan akademik (cowboy)

Keingintahuan pun bisa menjerumuskan ke dalam kesalahan, seperti keingintahuan orang akan sesuatu, kadang malah menyeret orang untuk terjun mencoba sesuatu tersebut. Tapi menurutku itu keingintahuan yang tidak dengan hati, tapi dengan hasrat sesaat. Mengatasnamakan keingintahuan.. atau belajar... selanjutnya membenarkan diri untuk melakukan hal tersebut (no talking)

Sebenernya yang mau ku-share lebih ke apa yang kualami belakangan ini. Seperti halnya temanku, aku punya rasa keingintahuan yang membuatku mencari info sebenar-benarnya dari media apapun yang aku bisa raih, entah orang, lokasi, internet, dan lainnya. Untuk satu hal yang membuatku bertanya-tanya apa yang sedang aku alami itu baik atau tidak, aku sempat mencari info secukupnya. Tapi ternyata itu tidak cukup dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalaku dan risaunya hati (nail biting) Aku sempat putus asa, banyak doa dipanjat agar aku tahu apa jawaban atas pertanyaan dan keresahan dan apa keputusan terbaik yang harus diambil. Sampai suatu saat, aku melihat ada suatu chance untuk aku bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan ke satu orang, yang tahu benar jawaban yang kupertanyakan. Dan akhirnya, terjawab semua dengan baik dan tanpa harus memalukan (laughing)
Dan ketika satu keingintahuan berakhir dengan menenangkan, satu keingintahuan lain muncul. Aku sempat bertanya-tanya, tapi kali ini tanpa kerisauan, walau aku sendiri belum tau kebenaran dan jawaban yang nanti diberikan-Nya lagi atas pertanyaan hamba-Nya yang terlalu mudah risau ini (smug) Sudah terjawab 40%.. sisanya mungkin akan diberikan-Nya secara berkala, Amin.

Istilah kata, keingintahuan bukan sesuatu yang salah. Asalkan bukan hanya hasrat sesaat dan cuma memuaskan nafsu (banyak kan orang membicarakan orang lain untuk memuaskan nafsunya agar merasa sebagai orang benar). Juga dengan kadar yang cukup, dan dengan kesadaran bahwa ada Yang Maha Tahu, lalu kenapa ga menanyakan kepadaNya jika memang belum terjawab..? (praying) Semoga semua pertanyaan kita dijawabNya... Wallahu'alam bishawab (Allah Maha Tahu segala kebenaran) (happy)

Saturday, April 24, 2010

Appreciation

Apresiasi. Ya, itu yang aku pernah harapkan dari setiap hal. Including on my on-site fill in resume. Tapi untuk kebalikannya pun aku ga kaget untuk menghadapinya, mulai terbiasa, get used to it.
Aku bisa mencari bentuk apresiasi dari banyak hal; ga dapet dalam bentuk a, maka aku bisa mencari dalam bentuk b. That's not a big matter.
Mungkin mulanya mengagetkan, I didn't get any credit for the things done that should be, but in any other side, I got a little attention that makes me relieved. That's what I mean.
Just as simple as "wah pulang malem lagi, lam. Nanti ya lam, kapan-kapan bisa pulang cepet...", "tadi malem kenapa lam, kok bisa gitu (keadaannya)??" that came out from a friend that sympathize me even not from the ones who never recognize what I'm dealing about. Buat mereka, ga ada harganya, dan ga akan ada harganya. Tapi perhatian yang diberikan temanku itu, sesimple apapun, itu melegakan... Terima kasih, terima kasih sekali! dan semacam energizer yang bertahan lebih lama melebihi materi ataupun hal lainnya. Keesokannya, dan keesokannya, aku ga mempermasalahkan semua itu. Itu contoh. Bisa terjadi dalam kondisi lainnya..

Belajar. Dari tahun ke tahun, aku ngerti bahwa apresiasi bukan sesuatu yang harus dituntut atau diminta, tapi cuma digunakan sebagai motivator. Aku ingin begini, maka aku harus begitu. Ketika aku menjalankan begitu, jika begini tidak terjadi, maka itu semua bukan masalah lagi. Karena begitu itu telah aku jalankan. Ga cuma dalam keluarga, relationship, tapi juga dalam pendidikan, pekerjaan, atau hal lain yang aku lakukan.
Misalnya, aku ingin dapat A, maka aku harus belajar. Ketika aku menjalankan belajar, jika aku ga dapat A, maka itu semua bukan masalah lagi. Karena aku telah belajar. apresiasi bisa kucari dari hal lain, untuk contoh ini, aku jadi tahu dari yang tadinya tidak tahu, hakikat dari belajar. Atau dalam relasi, aku ingin diperhatikan, maka aku harus memberi perhatian. Ketika aku memberi perhatian, jika aku pun tidak diperhatikan, maka itu semua bukan masalah lagi. Karena aku sudah memberi perhatian. Apresiasi lainnya, aku menjadi mengenal dari yang tadinya aku tidak mengenal. We can find other kind of appretiation. Kalau ga ketemu juga, kucari jalan lain.

Thanks for a person that wakes me up. Thanks God to let us meet again in other condition. Thanks to make me understand for decades. Well that's one sort of ikhlas for me. Seperti halnya tangan yang memberi, kita ga bisa menuntut agar apa yang kita berikan menjadi suatu hal atau orang yang kita berikan berterima kasih atas pemberian kita. Semakin kita menuntut untuk itu, semakin menyusahkan hati dan diri sendiri. Just give the bestest, then that's enough for me.

Friday, February 26, 2010

Rejeki sekaligus jodoh

Ini segelintir cerita yang mau kubagi. Beberapa bulan ini, (akhirnya) aku sadar bahwa ini salah satu jodoh yang Allah kasih... (coffee)

Dulu pertama kali aku bertemu, menginjakkan kaki di gedung itu, aku cuma merasa hanya sebagian kecil keinginanku untuk bekerja di sana. Toh, belum tentu di situ takdirku melangkah. Satu gedung yang besar, mewah, seolah berada di negara tetangga yang terkenal akan kerapihan kotanya.. Bahkan aku masih ingat bahwa ada satu teman yang nyeletuk, "enak kali ya kerja di sini.." (day dreaming) Dan aku ga merasa perlu membenarkannya (straight face)

Saat itu pun aku rasa tidak ada salahnya magang di sana, walau lamaranku tidak digubris (sad) Melainkan temanku yang lain yang magang di sana. Dua tahun kemudian, setelah aku lulus, aku sempet berpikir untuk murtad, cari kerjaan di luar jurusan kuliahku... (big grin) Sampai aku dapat satu pekerjaan dari info seorang teman, tapi aku tetap merasa ini bukan yang aku cari (whew!)Mungkin menjadi dosen adalah pilihanku, walau sulit dan harus berusaha bergelar S-San sampe es teler (tongue) karena nampaknya peluang kerja dosen di universitas ternama harus lulusan master. Mungkin Master Ded*y dan Master Sin*ad cocok tuh (laughing)

Di satu hari, aku mencari lowongan di internet seperti biasanya, sampai aku menemukan satu nama ABCD (bukan nama sebenarnya (don't tell anyone)) Gedung yang dulu aku datangi untuk mewawancara seorang Kepala Divisi IT untuk tugas kuliah, instansi di mana juga aku pernah mengirim lamaran magang, maka aku rasa tidak ada salahnya mencari peluang kerja di sana, sekali lagi. Walau lamaranku bukan buat magang, tapi HRD sempat juga menawarkan magang dulu di awal, itu di saat belum diadakan wawancara atau tes-tes terkait...
Aku pun agak ga sabaran dengan status gantung (hurry up!) tidak ada kabar berita, maka aku memberanikan diri meng-email dan menelepon pihak HRD, setidaknya meminta kejelasan apakah lamaranku ditolak. Jadi aku tidak akan bimbang ketika ditanyakan perusahaan lain untuk bekerja di tempat mereka. Jawabannya waktu itu bahwa akan dikabari lagi nanti, karena kesibukan yang ada... Sampai akhirnya serangkaian proses tes dijalankan.

Di saat wawancara, aku sama sekali ga mengerti mengenai tunjangan, bonus, atau apapun yang mereka bicarakan itu, yang kupikir toh ga akan didapat karyawan baru.. Masalah gaji pun, separuh lebih dikit dari gaji yang kudapat di kerjaan sebelumnya. Waduh, hidup makin berat, pendapatan makin sedikit, pikirku..(worried)Namun, dari beberapa pertimbangan, akhirnya kuambil peluang yang ada dengan kalimat pernyataan yang kuingat "kalau kamu mau belajar, di sini tempatnya. banyak peluang yang bisa kami beri. Tapi untuk gaji yang kamu minta, kami ga bisa memberikan segitu"
Aku pikir, selama ini toh aku pun cari kesempatan belajar, kerjaan yang bukan sebagai vendor melainkan client, kantor yang ga punya cabang karena takut dipindah-pindah, hahaha.. (laughing) and I found those in here. Jadi, mulailah aku bekerja di tempat ini. Penyesuaian diri dimulai, observasi dijalankan untuk bisa beradaptasi, karena tidak semua orang bisa menerima caraku dan tidak semua cara orang bisa kuterima.

Pertanyaan-pertanyaan pun mengalir, "kenapa ABCD? ga perusahaan lain?" seolah aku di sana karena materi yang kukejar. Jujur, tidak sepenuhnya benar. Toh, setahun pertama aku sampai perlu mencari uang tambahan, mencari lowongan guru privat untuk menutup kebutuhan harian, bahkan beberapa rekan baru yang sefakultas denganku, job desk yang sama tapi gajinya lebih besar, aku tidak mempermasalahkannya. That's normal and not a big deal. Masing-masing orang, masing-masing rejeki... Aku terima seadanya, dengan tetap berpikir untuk menjadi dosen nantinya. Teteup.... (big grin)
Pertanyaan selanjutnya, "tau dari mana ada lowongan di sini?" seolah karena banyak senior fakultasku yang bekerja di sana, maka aku bisa dengan mudah masuk, aku bisa dengan mudah tau ada lowongan di sana. Padahal tahu pun aku tidak, bahwa ada beberapa orang senior yang berasal dari kampus yang sama.

Makin hari, aku tidak menemukan yang aku cari, hal yang aku tulis di kolom isian "yang diharapkan dalam bekerja di ABCD" waktu tes masuk pertama kali, sebut saja hal X. Aku tidak akan menulisnya, tapi aku tahu seseorang pasti mengingatnya, beliau yang juga berharap aku mendapatkannya. Maka aku mengajukan pengunduran diri, walau belum resmi, tapi sudah dibicarakan panjang lebar dengan manajemen minus direksi, rasanya sudah bulat ketika itu. Instansi memberiku waktu berpikir sekali lagi, pikir matang-matang. Sempat ketika berbicara mengenai hal itu, aku membendung air mata, tidak tega karena akan banyak tanggung jawab yang terlunta, tapi juga tidak merasa mendapatkan apa yang aku harap. Aku tidak membuatnya menjadi alasan ketika itu. Aku hanya bilang ingin cari pekerjaan yang lebih dekat dari rumah.. (devil)

Setelah berpikir panjang dan matang, banyak berdoa (praying) aku akhirnya ikhlas menjalani pekerjaan ini, memanfaatkan kesempatan ini, membulatkan tekad sebagai tulang punggung harapan keluarga, dan aku kembali ke rutinitas yang ada, menghapus cita-cita yang membabi buta, berkonsentrasi mengembangkan diri, mengambil kesempatan belajar yang ada, menyehatkan tubuh yang agak sering drop, dan juga pulang ke rumah (alias berhenti ngekos (tongue)) Banyak yang tanya, "kenapa ngekos di xxxxx, sedangkan rumah di xxxxx?" ada beberapa pertimbangan, bahwa aku ga akan merepotkan orang tua, aku bisa menghemat transportasi, aku bisa lembur tanpa menguatirkan keluarga, aku bisa menanggung semua beban sendiri tanpa merisaukan orang rumah.

Nah, balik lagi ke jodohku yang satu ini. Kenapa aku bilang jodoh, karena ketika aku menetapkan diri untuk menjalaninya, perlahan kehidupanku membaik, pekerjaan semakin menyesuaikan (kadang terasa menyenangkan juga), peluang semakin terbuka, hati semakin mudah ditenangkan walau dalam tekanan, ibadah pun semakin ingin aku jalankan, dan pikiran semakin positif. Pertanyaan yang terlontar di suatu hari, "Nilam kan di ABCD cuma nyari duit (big grin)" hm.. kalau saja aku ngincernya duit, mungkin aku sudah ga di sana dari sejak awal (oh go on) aku ga akan rela berdiam di sana ketika aku merasa ga mendapatkan hal X tersebut, aku sudah menghilang dari pekerjaan yang ada itu, cukup menyelesaikan kontrak yang ada... (whew!)

Yah... setelah kupikir, mungkin ini jodoh yang Tuhan kasih... apapun doa yang kuminta mengenai lowongan lain, sepertinya digagalkan atau dibuatNya aku menggagalkannya. Mungkin Ia tahu, ini yang terbaik. Entah sampai kapan berjodoh, tapi semoga aku bisa menjalani amanah dengan benar... Well, mencari pekerjaan seperti mencari jodoh pasangan hidup bukan?! melamar sana-sini... mencari yang cocok... sampai akhirnya menjadi karyawan tetap.. jadi ga salah kalau aku bilang pekerjaan itu bukan saja rejeki, tapi jodoh bukan?! he he he.... (big grin)
Mengenai hal X itu, aku rasa sekarang ini aku cukup mendapatkannya (happy)