Saturday, April 04, 2009

Kepiting yang Pemarah

gw lupa cerita persisnya bagaimana... tapi cerita ini selalu gw ingat setiap kali gw merasa marah, kecewa, atau emosional, baik kepada orang atau keadaan. waktu itu gw baca suatu email di milis bercerita mengenai ini..

Tahu bagaimana nelayan memancing kepiting? mereka cukup menusuk-nusuk kepiting atau pun membuatnya marah. Ketika kepiting sudah cukup marah, kepiting akan memakai capit-capitnya berusaha melawan. Dan ternyata, nelayan justru lebih mudah mengikat capit si kepiting dan membuat tubuhnya terikat sepenuhnya seperti kepiting-kepiting yang kita lihat, yang sudah ada di dalam bak di penjualan hewan laut di restoran seafood.

Mungkin seperti halnya manusia. Ketika kita marah, kita sering kali tidak waspada sampai-sampai melakukan tindakan atau mengambil keputusan yang kita sesali, yang mungkin mengakibatkan kejatuhan atau kegagalan.

Esensinya.. ada baiknya amarah bisa dikontrol sebaik mungkin. gw bukan orang yang sabar, tapi sedang terus belajar untuk mengendalikan amarah. Setidaknya, pasti ada jalan lain yang lebih baik daripada marah. Yah.. sampai sekarang, setiap kali merasa marah, gw selalu ingat untuk tidak seperti kepiting yang pemarah. kadang susah siy.. (big grin)

seingat gw pun, yang namanya sabar, bukan terbatas. salah jika kita bilang, "sabar ada batasnya" karena yang membuat batas itu kita sendiri. Setiap kali sabar rasanya sudah tidak bisa, maka sudah waktunya label sabar itu di-extend menjadi lebih panjang lagi.. (winking)

Sunday, November 09, 2008

Balada Office Girl.. (OB's partner)

Alkisah.. suatu malam sebelum lebaran.. gw ke toilet. Di sana ada office girl yang masih berbersih, namanya Shinta. Orangnya ramah dan alhasil kita kenalan en bersalam-salaman.. Di saat lain, beberapa hari kemarin.. gw dateng pagi banget, sekitar jam 6.30an.. dan di sana ada seorang office girl yang sudah datang pagi-pagi sedang berbersih.. orang yang berbeda dengan yang sebelumnya dan sama sekali gw ga berhasrat bertanya siapa namanya. 2 orang ini jauh berbeda..

Yang satu murah senyum dan tidak bersungut-sungut.. yang satu lagi pagi-pagi sudah ngomel sendiri, "huuh.. susah kerja di sini! uda gajinya kecil, diperes lagi.. ****** (salah satu merk kosmetik) ada yang ilang.. kita yang disuruh ganti.. mau cari kerja laen.. tapi ga dapet." sampe-sampe saat gw denger hal itu, gw langsung spontan bersuara, "heee..." dan hampir gw bicara, "kalo kerja yang ikhlas! jangan bisanya ngeluh mulu! usaha!" tapi gw langsung sadar, siapa gw.. (thinking) itu toh bukan hal yang gampang juga untuk gw lakukan.. tapi empet aja denger keluhan kaya gitu (no talking)

Yang satu berjilbab tapi ga diperbolehkan di tempat kerjanya. Dia terpaksa demi pekerjaan melepas hijabnya di tempat kerjanya.. yang satu lagi kaga tau deh.. dapet gaji kecil aja bisanya ngeluh.. gw waktu itu pulang malem dan ketemu dengan office girl yang pertama gw ceritakan itu.. Dia nyapa gw.. dan gw sampe ga ngenalin.. "ow ow siapa dia.." dan kaget banget gw waktu liat dia hijab (surprise) gw kirain dia baru mulai pake.. ternyata di kesempatan lain gw tanya ke dia, "uda lama pake kok.. cuma ga dibolehin sama management di sini.. yah mau gimana lagi, namanya nyari kerjaan.." agak prihatin dengernya.. (crying)

Dari dua pribadi itu, sebenernya ada yang jelas bisa kita liat.. semakin kita ga rela sama keadaan kita sekarang.. semakin kita tertekan oleh diri kita sendiri.. bukan berarti ga boleh berambisi, tapi kita sendiri butuh berpijak pada kaki kita sendiri. Kalau diri kita sendiri tidak mau lagi menerima kita karena kecewa diri kita ga bisa memberikan apa yang kita inginkan, lantas bagaimana bisa berpijak..?? bagaimana kita bisa melangkah ke apa yang kita cita-citakan..?? so, jangan terlalu menekan diri kita sendiri juga.. who's the person we can count on? ourselves first (thumbs up)

Sunday, August 31, 2008

Kapan Saya Dimaafkan???

Ada satu hal yang membingungkan menurut saya. Sadar ga? Setiap masa bulan puasa, para muslim bilang kalau mereka saling bermaafan? No offense, I am a Moslem, too. Tapi apa yang saya lihat dan saya dengar, tidak seperti itu. Setiap kali kita ucapkan kepada seseorang kalimat "Mohon maaf", apa kita mendengar kalimat; "iya.. sama-sama.." atau "iya dimaafkan, mohon maaf juga yah" atau kalimat lain yang bermakna bahwa maaf kita diterima?? Sorry to say..

WHY?! itu yang harus dijawab. Karena...
- Cara berpikir yang self-centered; Saya merasa punya salah dan dosa dan saya mau minta maaf. Masalah apakah orang lain juga mau minta maaf kepada saya, buat apa dipikirkan.. It's doing nothing about me.
- Cara berpikir yang singkat; saya mau minta maaf dan yang penting saya sudah mengutarakannya, untuk dimaafkan atau tidak adalah urusan belakangan. Ini minta maaf atau basa-basi??!!
- Satu sifat yang lahiriah; memaafkan adalah hal yang lebih sulit dibanding meminta maaf.

Saya agak geram... (angry) tapi bukan mengenai apakah orang lain mau memaafkan saya atau tidak, itu bukan hak saya menghakimi orang lain kenapa maafnya perlu saya terima sedangkan maaf saya bahkan tidak digubris sedikit pun. Itu hak masing-masing orang... Bukan! Bukan itu yang memicu rasa keki saya... Tapi kenapa harus ada istilah "saling bermaafan" atau "bermaaf-maafan" daripada "saling minta maaf"? Toh yang dilakukan orang selama ini hanya mengucap "mohon maaf lahir batin" tanpa ada tanda bahwa ia pun memaafkan kesalahan orang lain? Apa jangan-jangan istilah "mohon maaf lahir batin" pun hanya sekadar mengikuti tradisi bulan puasa seperti halnya makan ketupat? Sungguh disayangkan sekali... Bahwa makna meminta maaf pun dihargai setarik napas saja.

Semoga di bulan puasa kali ini, kita bisa lebih baik lagi, terutama untuk memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri, baru setelah itu memohon maaf sebenar-benarnya memohon maaf.. karena memaafkan orang lain dan diri sendiri adalah yang tersulit, dibandingkan berucap "mohon maaf" . yah... karena memang setiap usaha memohon maaf berawal dari niat, dan selebihnya diputuskan oleh orang lain apakah mau memaafkan atau tidak. Sedangkan... untuk memaafkan butuh kerelaan hati... bukan berarti kesalahan itu harus dilupakan, itu bisa jadi pelajaran kok.. masalahnya adalah bagaimana kita bisa memandangnya bukan lagi sebagai kesalahan tapi sebuah sejarah untuk dipelajari..
Jangan cuma berpuasa selayaknya menahan nafsu.. sayang... karena pintu maaf kan sedang dibuka dengan suangattt luebarrrr.... (smug)

Dengan ini, saya pun mohon maaf dengan serendah hati saya.. toh bukan maksud menggurui.. tapi mengingatkan, setidaknya dengan refleksi terhadap diri saya sendiri juga.. (big grin)
Selamat menjalankan ibadah puasa yah... dan jangan lupa belajar memaafkan juga... (winking) jangan cuma belajar minta maaf doang... (tongue)