I wanna cry to write this. Tepat setahun niat berhijab akhirnya terlaksana.. Alhamdullilah semoga bisa selamanya.
Bukan maksud aku untuk jadi orang yang terlihat benar, tapi ini hanya sekadar sharing, ga lebih.. (jarang-jarang nulis pake 'aku', jadi kagok, hahaha )
Setahun lalu, ada satu keinginan yang kuatt.. sekali. Dipicu dari keinginan itu, aku melirik peluang untuk ber-nazar (tau kan yah? semacam janji ke Tuhan, kalau keinginan kita dikabulin, maka kita akan melakukan sesuatu.. CMIIW), siapa tau kesampean, huehehe.. Entah kenapa, yang terbersit di pikiran itu, berhijab..
Dan memang selama beberapa tahun terakhir setelah terjun ke dunia kerja, aku ga ngerasa nyaman dengan bagaimana orang melihat, terutama lawan jenis. Yah jujur aja, rasanya kaya di-scan. Belum lagi komentar-komentar yang aku pikir itu ga etis diucapkan, bagian-bagian fisik dikomentarin tanpa batas. Aku pun ngerasa seperti tertampar (bukan lagi tertegur, tapi tertampar!), "lo sendiri bagaimana berpakaiannya..??" yah memang salah aku juga kali yah, yang mungkin terlalu cuek jadi orang..
Dari yang niatnya cuma biar keinginan terbesar aku waktu itu dikabulkan.. aku mulai tertarik, aku lirik-lirik, bagus bener temen-temen yang uda hijab, rapih, rasanya aman dan dihormati. Selama aku memperhatikan, seyogyanya laki-laki yang tau bersikap, pastinya malu punya mata yang kaya scanner untuk perempuan yang jelas-jelas berhijab, "jelas-jelas gw menutup aurat, berarti kalau kalian laki-laki yang tau sikap, pastinya punya malu untuk melihat dengan cara seperti 'itu'." kira-kira seperti itu.. Ga percaya?! coba perhatikan kalau lagi di jalan-jalan, atau di bus. Gimana mata laki-laki sekeliling kalau ada cewek lewat. Ga usa yang cantik-cantik banget, cukup yang rambutnya terurai, sama kaos ketat. Langsung deh di-scan.. parah yah
kalau kita jadi perempuan itu.. dan kebetulan kita sadar, jadinya ga nyaman.. ya kalaupun cewek berhijab yang diliatin (maksudku berhijab yah, ga cuma berjilbab), aku yakin 95% mereka bukan scanning, tapi berpikir positif, inget sama ibadah.. (kalau mereka muslim). just think positively..
Lalu, aku mulai memperhatikan bagaimana orang-orang yang berhijab, bagaimana aku memulai, dan bagaimana setelah itu.. apa aku bisa tahan untuk selamanya?! Karena aku waktu itu masih ga yakin bisa bertahan lama untuk hijab. Apalagi aku cepet stress kalo kegerahan.. aku dulu masih berpikir jilbab itu bikin gerah juga..
Kemudian ada 1 rekan kerja yang akhirnya berhijab. Waktu kita pulang bareng, beliau cerita bagaimana jalan pikirannya mengenai hijab yang beliau lakukan waktu bulan puasa. Dimulai dari keseharian kalau datang pengajian, sampai mengumpulkan jilbab satu persatu. Dibarengin hal itu, ada 1 rekan kerja lagi yang bertanya, kok aku ga pake jilbab, padahal diwajibkan untuk perempuan muslim.. Aku ga kaget karena dia pria, aku ga marah karena merasa dikuliahin, tapi aku malah salut karena itu ditanyakan dengan jujur. Bahkan dia bersedia minta tolong kakak perempuannya untuk membantu aku kalau aku butuh bantuan memilih pakaian/jilbab Aku memang nunggu momen untuk ngumpulin pakaian yang cukup menutup dan beberapa jilbab, masa pake jilbab tapi bajunya masih nunjukin semua lekuk.. apalagi jujur aja, dibandingkan orang kurus, lebih susah untuk orang gemuk memilih baju tertutup. ngerti lha yah.. hehehe
Berangkat dari hal itu, aku beli sekitar 3 jilbab dan mulai memilah-milah pakaian yang secukupnya tertutup. Beli baju baru kan mahal.. jadi mesti nabung dulu Tapi satu hal yang paling mengganggu pikiran, apa yang terjadi setelah itu. Apa aku bisa menjaga niat ini terus? Bagaimana dengan pandangan lingkungan sekitar?? Bagaimana perlakuan mereka.. Karena sebelumnya, aku berpikir, hijab itu membatasi. Nanti malah banyak yang menjauh.. dikira fanatik atau sok alim.. atau ada pikiran yang bersifat mengadili.. kalau pake jilbab, harus bersikap gini gitu, ga boleh ini itu.. Apalagi aku orangnya ga suka ribet, pakaian sejadinya. Tapi aku pikir lagi, toh niatnya baik, sesuai seperti keinginan-Nya, insyaAllah lancarrrrr...
Yang mengejutkan lagi, setelah aku mulai berhijab, banyak yang malah memberi support, dari hadiah-hadiah jilbab dan pakaian. Rejeki juga mulus-mulus aja, menghadapi masalah bisa lebih tenang, walau kadang masih terasa panik.. namanya juga belajar. hehe
Awalnya, terasa memang yang namanya keterbatasan. Apalagi waktu ganti baju di tempat ganti baju wanita. Kebanyakan perempuan yang tidak hijab, rasanya ringkas. Tapi aku?? rasanya ribet banget.. "istighfar, lam.." Lama-lama, rasanya nyaman.. yah ga sampe beberapa minggu.. Setelah beberapa hari uda nyaman sekali, malah bukan keterbatasan, tapi freedom! Salah besar kalau hijab membatasi, justru yang aku rasa, bebas-bebas aja tuh bergerak, ga ada yang matanya kaya scanner lagi. bebas-bebas aja mau kemana-mana, insyaAllah aman.. dan ga perlu lagi mikirin rambut berantakan ketiup angin, kena debu jadi kusut, lalu rontok gara-gara panas!
alah.. males banget harus mikirin rambut berantakan kaya singa
dan rasa gerah?? engga tuh.. wajar aja kalo cuacanya emang panas, ya gerah.. biasa aja. Malah kalau hijab, toh rambut juga diikat ga menyentuh leher, jadi ga gerah toh, asik toh?! enak toh?! hahahaha
Terlepas dari itu wajib atau tidak, yang utama buat aku, kebutuhan. Sebenernya sudah lama Tuhan tau kalau manusia membutuhkan, karena itu diwajibkan. Tapi sayangnya kita sering sadar terlambat, bahwa kita butuh.
Nah, bukannya niatnya turun, malah makin lama makin terdorong untuk tantangan berikutnya. Shalat pengennya penuh (walau kadang masih sempet bolong.. mulai pengen menghafal lebih dari 3-4 ayat, dan ga cuma lafal, pengennya juga bisa ngerti artinya.. karena menurutku, ilmu yang paling benar, yah ada di Al-Qur'an semua.. dodolnya gw, uda tua gini baru mau belajar..
dan target lainnya. Jadi, ini cuma awal... Yang pasti, rasanya sekarang bebas banget!
menyesal?! engga banget, malahan happy, satisfied, hehehe. Just think simply for something great and act, because it's just nothing if we're not doing that.
Selamat berpuasa.. mohon maaf lahir batin.. semoga puasa dan ibadahnya maksimal!
N.B.
btw, pinjam foto baby-nya yah, anak siapa pun ini.. lucu bener
Saturday, September 05, 2009
Hijab itu...
Monday, August 24, 2009
Belajar di Negeri Jauh
Bicara tentang beasiswa S2 ke luar negeri, mengingatkan saya ke 2 orang yang menarik. Kebanyakan mahasiswa atau bahkan pelajar biasa, baik yang basic-nya research maupun siswa yang penting waktu lulus bisa dapat kerja dan bisa cari duit, berminat untuk bisa mendapat beasiswa S2 ke luar negeri, termasuk yang nulis . Terlepas dari tujuan utamanya, entah belajar ke pusat ilmu pengetahuan semacam Eropa atau tempat businessman yang bergengsi dan sukses semacam Amerika, ataupun jalan-jalan, karena dengan belajar ke luar negeri berarti membuka mata terhadap tempat dan budaya baru, sehingga secara ga langsung memperkaya diri.
Kembali ke 2 orang itu, 1 dari jurusan sastra, dan satu dari jurusan science, (dirahasiakan). Dua-duanya berasal dari ilmu pengetahuan yang berharga. Sastra malah bisa dibilang sumber dari ilmu pengetahuan, bukan sekadar budaya (seorang guru SMA pernah menjelaskannya).
Profil pertama, si sastrawan yang mendapat beasiswa 2 kali ke Jerman, "banyak orang yang bilang, wah hebat lo bisa ke Jerman, dapet beasiswa lagi. padahal ga seindah itu.." Cerita dari keinginannya belajar budaya dan bahasa Jerman, berujung ke keadaan bagaimana dia harus mengusahakan segala detil yang dituntut sempurna, seperti pengucapan, dialek, pemahaman, pemilihan kata, sampai banyak hal membuat kemuakan dalam dirinya, hasrat belajar menguap banyak dari dirinya. Namun, rasanya sudah terlanjur basah untuk melangkah ke hal lain. Dan jadinya, keputusasaan.
Profil kedua, si ilmuwan yang mendapat beasiswa ke negara di Eropa. Si tokoh ini benar-benar mengejutkan karena ga dinyana kalau ia mau menceritakan hal yang tidak ditanyakan, tapi untuk pembelajaran saya sendiri. Saat kita bicara ketertarikan saya untuk bisa berbeasiswa S2 ke Eropa, ia menceritakan bagaimana di saat ia menuntut ilmu, ternyata ia harus kehilangan hal yang sangat berharga untuknya, ibu. Kehilangan yang terjadi di depan mata saja sudah berat, apalagi di tempat yang jauh yang untuk sementara tidak dapat dijangkau. Karena itu pilihannya, pulang dengan beberapa resiko, atau terus menuntut ilmu dengan hati yang hancur. Menangis tidak bisa, menikmati impiannya juga tidak bisa.
Dari 2 cerita itu saja, sempat membuka mata saya apakah sebegitu berharganya kesenangan semacam itu yang bahkan belum bisa dilihat kemungkinan setelah itu. Kekayaan akan ilmu toh tidak hanya dari bangku kuliah. Kesenangan akan adventure toh juga tidak hanya dari penerbangan dan visa gratis ke berbagai negara, dengan makna bahwa saya ga punya uang apa-apa selain beasiswa, sedangkan keluarga di ujung sana bisa jadi kelaparan.
Jadi... kalau ditanya sekarang, walaupun diberikan gratis tanpa harus ada usaha besar, saya perlu berpikir lama lagi dan bahkan mengatakan, cukup deh. Cerita dari tokoh kedua cukup menjadi tamparan yang berharga. Salut untuk kesediaannya. Semua jatuh pada pilihan pribadi masing-masing. Perlu ada alasan yang setara berharganya untuk diperbandingkan atas semua yang ada di depan mata... well, itu untuk saya pribadi
Saturday, June 20, 2009
Words of "Happy Birthday"
Sebenernya pengen nulis ini uda lama, mungkin hari ini waktunya tepat untuk di-publish dari gw kecil, gw merasa ada yang aneh, kenapa setiap orang harus ucap terima kasih, maaf, ataupun selamat. It takes me so long to learn how to say those things. Termasuk selamat ulang tahun. Dan semakin lama gw akhirnya tau bahwa dengan mengucap terima kasih berarti menghargai, maaf berarti mengakui kesalahan, dan selamat berarti turut bahagia atas sesuatu.
Dan sekarang pertanyaannya, kenapa hari ulang tahun? dan gw belajar memahami bahwa saat itu seseorang menapak hidupnya di bumi. Sesuatu yang berarti? pastinya.
Pertanyaan selanjutnya, ada sesuatu yang unik, kenapa ada perbedaan makna di antara laki-laki dan perempuan? Lelaki menganggap ucapan selamat ulang tahun ga bermakna apa-apa, atau bahkan dilupakan juga ga berpengaruh apa-apa. Tapi bagi perempuan kebanyakan, itu jadi sesuatu yang menyedihkan. Apa yang membuat itu menjadi penting? Bahkan bagi kebanyakan perempuan, ucapan di saat jam 12 teng jadi ucapan yang begitu berharga. Kalau ditanya kenapa, karena berarti ulang tahunnya begitu diingat oleh orang pertama yang mengucap itu, siapapun orang itu, pastinya ada rasa terima kasih dan senang yang lebih daripada biasanya.
Apa itu karena perempuan cenderung menggunakan emosinya untuk menanggapi sesuatu sehingga hal itu menjadi penting? Is that because those words means care and attention. Well, it's a public secret that women (including girls) like to be cared, loved, and wanted. ya bukan hanya oleh pasangan, tapi juga teman, sahabat, keluarga, dan kerabat lain.. istilahnya, perannya menjadi berarti, baik sebagai teman, anak, istri, saudara.
Dan mungkin karena laki-laki cenderung menggunakan logikanya untuk menanggapi sesuatu sehingga hal itu menjadi hal biasa? Well, those just a sentence.
Yah.. yang pasti, Happy Birthday is not a noun, but a wish; I wish you a happy birthday, means you can have happy day when you celebrate the time you were born, and that's how I can know you as a person now and later
Dedicate a song for myself, one that I was hardly looking but it was accidentally given to me. Happy happy happy!
Fayray - Hikari
P.S.: (Susah bener cari liriknya)