Saturday, July 03, 2010

Keingintahuan Manusia

Aku sempat berpikir bahwa manusia yang selalu ingin tahu itu annoying (yawn) "kenapa", "apa", "kapan", "emang bener", "siapa tuh", dan seterusnya... Bahkan kadang merasa bersalah kalau aku yang menjadi orang itu terhadap orang sekitar, walaupun niatnya secara tidak sadar karena semata aku peduli. (big grin)

Tapi tanpa disadari.. (thinking) setiap orang memang punya rasa ingin tahu yang besar, yang memang mendarah-daging, yah.. namanya orang hidup. Suatu proses pembelajaran dalam hidup, yang secara harafiah berarti dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar kan ga hanya urusan akademik (cowboy)

Keingintahuan pun bisa menjerumuskan ke dalam kesalahan, seperti keingintahuan orang akan sesuatu, kadang malah menyeret orang untuk terjun mencoba sesuatu tersebut. Tapi menurutku itu keingintahuan yang tidak dengan hati, tapi dengan hasrat sesaat. Mengatasnamakan keingintahuan.. atau belajar... selanjutnya membenarkan diri untuk melakukan hal tersebut (no talking)

Sebenernya yang mau ku-share lebih ke apa yang kualami belakangan ini. Seperti halnya temanku, aku punya rasa keingintahuan yang membuatku mencari info sebenar-benarnya dari media apapun yang aku bisa raih, entah orang, lokasi, internet, dan lainnya. Untuk satu hal yang membuatku bertanya-tanya apa yang sedang aku alami itu baik atau tidak, aku sempat mencari info secukupnya. Tapi ternyata itu tidak cukup dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalaku dan risaunya hati (nail biting) Aku sempat putus asa, banyak doa dipanjat agar aku tahu apa jawaban atas pertanyaan dan keresahan dan apa keputusan terbaik yang harus diambil. Sampai suatu saat, aku melihat ada suatu chance untuk aku bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan ke satu orang, yang tahu benar jawaban yang kupertanyakan. Dan akhirnya, terjawab semua dengan baik dan tanpa harus memalukan (laughing)
Dan ketika satu keingintahuan berakhir dengan menenangkan, satu keingintahuan lain muncul. Aku sempat bertanya-tanya, tapi kali ini tanpa kerisauan, walau aku sendiri belum tau kebenaran dan jawaban yang nanti diberikan-Nya lagi atas pertanyaan hamba-Nya yang terlalu mudah risau ini (smug) Sudah terjawab 40%.. sisanya mungkin akan diberikan-Nya secara berkala, Amin.

Istilah kata, keingintahuan bukan sesuatu yang salah. Asalkan bukan hanya hasrat sesaat dan cuma memuaskan nafsu (banyak kan orang membicarakan orang lain untuk memuaskan nafsunya agar merasa sebagai orang benar). Juga dengan kadar yang cukup, dan dengan kesadaran bahwa ada Yang Maha Tahu, lalu kenapa ga menanyakan kepadaNya jika memang belum terjawab..? (praying) Semoga semua pertanyaan kita dijawabNya... Wallahu'alam bishawab (Allah Maha Tahu segala kebenaran) (happy)

Saturday, April 24, 2010

Appreciation

Apresiasi. Ya, itu yang aku pernah harapkan dari setiap hal. Including on my on-site fill in resume. Tapi untuk kebalikannya pun aku ga kaget untuk menghadapinya, mulai terbiasa, get used to it.
Aku bisa mencari bentuk apresiasi dari banyak hal; ga dapet dalam bentuk a, maka aku bisa mencari dalam bentuk b. That's not a big matter.
Mungkin mulanya mengagetkan, I didn't get any credit for the things done that should be, but in any other side, I got a little attention that makes me relieved. That's what I mean.
Just as simple as "wah pulang malem lagi, lam. Nanti ya lam, kapan-kapan bisa pulang cepet...", "tadi malem kenapa lam, kok bisa gitu (keadaannya)??" that came out from a friend that sympathize me even not from the ones who never recognize what I'm dealing about. Buat mereka, ga ada harganya, dan ga akan ada harganya. Tapi perhatian yang diberikan temanku itu, sesimple apapun, itu melegakan... Terima kasih, terima kasih sekali! dan semacam energizer yang bertahan lebih lama melebihi materi ataupun hal lainnya. Keesokannya, dan keesokannya, aku ga mempermasalahkan semua itu. Itu contoh. Bisa terjadi dalam kondisi lainnya..

Belajar. Dari tahun ke tahun, aku ngerti bahwa apresiasi bukan sesuatu yang harus dituntut atau diminta, tapi cuma digunakan sebagai motivator. Aku ingin begini, maka aku harus begitu. Ketika aku menjalankan begitu, jika begini tidak terjadi, maka itu semua bukan masalah lagi. Karena begitu itu telah aku jalankan. Ga cuma dalam keluarga, relationship, tapi juga dalam pendidikan, pekerjaan, atau hal lain yang aku lakukan.
Misalnya, aku ingin dapat A, maka aku harus belajar. Ketika aku menjalankan belajar, jika aku ga dapat A, maka itu semua bukan masalah lagi. Karena aku telah belajar. apresiasi bisa kucari dari hal lain, untuk contoh ini, aku jadi tahu dari yang tadinya tidak tahu, hakikat dari belajar. Atau dalam relasi, aku ingin diperhatikan, maka aku harus memberi perhatian. Ketika aku memberi perhatian, jika aku pun tidak diperhatikan, maka itu semua bukan masalah lagi. Karena aku sudah memberi perhatian. Apresiasi lainnya, aku menjadi mengenal dari yang tadinya aku tidak mengenal. We can find other kind of appretiation. Kalau ga ketemu juga, kucari jalan lain.

Thanks for a person that wakes me up. Thanks God to let us meet again in other condition. Thanks to make me understand for decades. Well that's one sort of ikhlas for me. Seperti halnya tangan yang memberi, kita ga bisa menuntut agar apa yang kita berikan menjadi suatu hal atau orang yang kita berikan berterima kasih atas pemberian kita. Semakin kita menuntut untuk itu, semakin menyusahkan hati dan diri sendiri. Just give the bestest, then that's enough for me.

Friday, February 26, 2010

Rejeki sekaligus jodoh

Ini segelintir cerita yang mau kubagi. Beberapa bulan ini, (akhirnya) aku sadar bahwa ini salah satu jodoh yang Allah kasih... (coffee)

Dulu pertama kali aku bertemu, menginjakkan kaki di gedung itu, aku cuma merasa hanya sebagian kecil keinginanku untuk bekerja di sana. Toh, belum tentu di situ takdirku melangkah. Satu gedung yang besar, mewah, seolah berada di negara tetangga yang terkenal akan kerapihan kotanya.. Bahkan aku masih ingat bahwa ada satu teman yang nyeletuk, "enak kali ya kerja di sini.." (day dreaming) Dan aku ga merasa perlu membenarkannya (straight face)

Saat itu pun aku rasa tidak ada salahnya magang di sana, walau lamaranku tidak digubris (sad) Melainkan temanku yang lain yang magang di sana. Dua tahun kemudian, setelah aku lulus, aku sempet berpikir untuk murtad, cari kerjaan di luar jurusan kuliahku... (big grin) Sampai aku dapat satu pekerjaan dari info seorang teman, tapi aku tetap merasa ini bukan yang aku cari (whew!)Mungkin menjadi dosen adalah pilihanku, walau sulit dan harus berusaha bergelar S-San sampe es teler (tongue) karena nampaknya peluang kerja dosen di universitas ternama harus lulusan master. Mungkin Master Ded*y dan Master Sin*ad cocok tuh (laughing)

Di satu hari, aku mencari lowongan di internet seperti biasanya, sampai aku menemukan satu nama ABCD (bukan nama sebenarnya (don't tell anyone)) Gedung yang dulu aku datangi untuk mewawancara seorang Kepala Divisi IT untuk tugas kuliah, instansi di mana juga aku pernah mengirim lamaran magang, maka aku rasa tidak ada salahnya mencari peluang kerja di sana, sekali lagi. Walau lamaranku bukan buat magang, tapi HRD sempat juga menawarkan magang dulu di awal, itu di saat belum diadakan wawancara atau tes-tes terkait...
Aku pun agak ga sabaran dengan status gantung (hurry up!) tidak ada kabar berita, maka aku memberanikan diri meng-email dan menelepon pihak HRD, setidaknya meminta kejelasan apakah lamaranku ditolak. Jadi aku tidak akan bimbang ketika ditanyakan perusahaan lain untuk bekerja di tempat mereka. Jawabannya waktu itu bahwa akan dikabari lagi nanti, karena kesibukan yang ada... Sampai akhirnya serangkaian proses tes dijalankan.

Di saat wawancara, aku sama sekali ga mengerti mengenai tunjangan, bonus, atau apapun yang mereka bicarakan itu, yang kupikir toh ga akan didapat karyawan baru.. Masalah gaji pun, separuh lebih dikit dari gaji yang kudapat di kerjaan sebelumnya. Waduh, hidup makin berat, pendapatan makin sedikit, pikirku..(worried)Namun, dari beberapa pertimbangan, akhirnya kuambil peluang yang ada dengan kalimat pernyataan yang kuingat "kalau kamu mau belajar, di sini tempatnya. banyak peluang yang bisa kami beri. Tapi untuk gaji yang kamu minta, kami ga bisa memberikan segitu"
Aku pikir, selama ini toh aku pun cari kesempatan belajar, kerjaan yang bukan sebagai vendor melainkan client, kantor yang ga punya cabang karena takut dipindah-pindah, hahaha.. (laughing) and I found those in here. Jadi, mulailah aku bekerja di tempat ini. Penyesuaian diri dimulai, observasi dijalankan untuk bisa beradaptasi, karena tidak semua orang bisa menerima caraku dan tidak semua cara orang bisa kuterima.

Pertanyaan-pertanyaan pun mengalir, "kenapa ABCD? ga perusahaan lain?" seolah aku di sana karena materi yang kukejar. Jujur, tidak sepenuhnya benar. Toh, setahun pertama aku sampai perlu mencari uang tambahan, mencari lowongan guru privat untuk menutup kebutuhan harian, bahkan beberapa rekan baru yang sefakultas denganku, job desk yang sama tapi gajinya lebih besar, aku tidak mempermasalahkannya. That's normal and not a big deal. Masing-masing orang, masing-masing rejeki... Aku terima seadanya, dengan tetap berpikir untuk menjadi dosen nantinya. Teteup.... (big grin)
Pertanyaan selanjutnya, "tau dari mana ada lowongan di sini?" seolah karena banyak senior fakultasku yang bekerja di sana, maka aku bisa dengan mudah masuk, aku bisa dengan mudah tau ada lowongan di sana. Padahal tahu pun aku tidak, bahwa ada beberapa orang senior yang berasal dari kampus yang sama.

Makin hari, aku tidak menemukan yang aku cari, hal yang aku tulis di kolom isian "yang diharapkan dalam bekerja di ABCD" waktu tes masuk pertama kali, sebut saja hal X. Aku tidak akan menulisnya, tapi aku tahu seseorang pasti mengingatnya, beliau yang juga berharap aku mendapatkannya. Maka aku mengajukan pengunduran diri, walau belum resmi, tapi sudah dibicarakan panjang lebar dengan manajemen minus direksi, rasanya sudah bulat ketika itu. Instansi memberiku waktu berpikir sekali lagi, pikir matang-matang. Sempat ketika berbicara mengenai hal itu, aku membendung air mata, tidak tega karena akan banyak tanggung jawab yang terlunta, tapi juga tidak merasa mendapatkan apa yang aku harap. Aku tidak membuatnya menjadi alasan ketika itu. Aku hanya bilang ingin cari pekerjaan yang lebih dekat dari rumah.. (devil)

Setelah berpikir panjang dan matang, banyak berdoa (praying) aku akhirnya ikhlas menjalani pekerjaan ini, memanfaatkan kesempatan ini, membulatkan tekad sebagai tulang punggung harapan keluarga, dan aku kembali ke rutinitas yang ada, menghapus cita-cita yang membabi buta, berkonsentrasi mengembangkan diri, mengambil kesempatan belajar yang ada, menyehatkan tubuh yang agak sering drop, dan juga pulang ke rumah (alias berhenti ngekos (tongue)) Banyak yang tanya, "kenapa ngekos di xxxxx, sedangkan rumah di xxxxx?" ada beberapa pertimbangan, bahwa aku ga akan merepotkan orang tua, aku bisa menghemat transportasi, aku bisa lembur tanpa menguatirkan keluarga, aku bisa menanggung semua beban sendiri tanpa merisaukan orang rumah.

Nah, balik lagi ke jodohku yang satu ini. Kenapa aku bilang jodoh, karena ketika aku menetapkan diri untuk menjalaninya, perlahan kehidupanku membaik, pekerjaan semakin menyesuaikan (kadang terasa menyenangkan juga), peluang semakin terbuka, hati semakin mudah ditenangkan walau dalam tekanan, ibadah pun semakin ingin aku jalankan, dan pikiran semakin positif. Pertanyaan yang terlontar di suatu hari, "Nilam kan di ABCD cuma nyari duit (big grin)" hm.. kalau saja aku ngincernya duit, mungkin aku sudah ga di sana dari sejak awal (oh go on) aku ga akan rela berdiam di sana ketika aku merasa ga mendapatkan hal X tersebut, aku sudah menghilang dari pekerjaan yang ada itu, cukup menyelesaikan kontrak yang ada... (whew!)

Yah... setelah kupikir, mungkin ini jodoh yang Tuhan kasih... apapun doa yang kuminta mengenai lowongan lain, sepertinya digagalkan atau dibuatNya aku menggagalkannya. Mungkin Ia tahu, ini yang terbaik. Entah sampai kapan berjodoh, tapi semoga aku bisa menjalani amanah dengan benar... Well, mencari pekerjaan seperti mencari jodoh pasangan hidup bukan?! melamar sana-sini... mencari yang cocok... sampai akhirnya menjadi karyawan tetap.. jadi ga salah kalau aku bilang pekerjaan itu bukan saja rejeki, tapi jodoh bukan?! he he he.... (big grin)
Mengenai hal X itu, aku rasa sekarang ini aku cukup mendapatkannya (happy)