Sunday, December 20, 2009

Never been Enough

Udah lama sekali ga nulis (tongue) Mungkin kali ini aku mau share sesuatu yang sering atau selalu kita rasa sebagai manusia, "ga pernah cukup" atau "never been enough". Ga pernah merasa kenyang, merasa puas, merasa cukup. Mungkin satu cerita seperti ini... Mungkin cuma rekayasa, tapi setidaknya bisa jadi pelajaran...


Satu hari, A berdoa, "Tuhan, aku ingin lulus kuliah, karena dengan begitu aku bisa dapet kerjaan.." (praying)
Beberapa tahun kemudian, mendekati kelulusan, "Tuhan, aku ingin bisa dapet cum laude, biar bisa gampang ngelamar kerja." (praying)
Setelah lulus dan mendapat cum laude, "Tuhan, aku mau dapet kerjaan yang gajinya gede, biar bisa beli apa aja yang kumau." (praying)
Setelah dapet kerjaan yang gajinya gede, "Tuhan, aku mau bisa diterima oleh lingkungan kerja... kok rasanya ga nyaman banget yah... padahal gajinya gede, masa mesti keluar cari kerjaan laen sii...." (praying)
Setelah beberapa masa, A mulai diterima lingkungan kerjanya, "Tuhan, aku mau jadi atasan dong.. kan enak punya bawahan, gajinya juga lebih gede... dann jadi aku bisa punya kendaraan pribadi. Jadi hemat ongkos..." (praying)
Setelah menjadi atasan dan bisa membeli kendaraan motor seadanya, "Tuhan, naik motor cape.... aku mohon supaya aku bisa beli mobil... jadi ga pegel dan ga kena knalpot..." (praying)
Setelah bisa beli mobil, "Tuhan, mobilnya ga nyaman banget, kursinya ga empuk, nge-gasnya juga berat... aku pengen bisa beli mobil mahal, e-class gitu... kata banyak teman-teman kerjaku, enak tuh" (praying)
Setelah bisa beli mobil mahal dan nyaman, "Tuhan, ternyata pegel juga yah nyetir sendiri, pengen deh naik jabatan lagi, siapa tau bisa ngegaji supir juga..." (praying) terus dan terus dan terus... berkutat dengan materi, hasrat, nafsu, dan konco-konconya.

Aku pun sebagai manusia kadang juga meminta... seperti, "Tuhan, aku pengen banget mataku sembuh, biar ga perlu pake kacamata tebel lagi.." atau "Tuhan, aku pengen bisa dapat kerjaan setelah lulus.." Rasanya memang wajar sebagai manusia, tapi kok rasanya ga enak hati... mintaaaaaaa.... terus (d'oh) Karena kadang, apa yang kita ga minta, dikasih... (thinking) Kebayang kalau kita ga punya kasur untuk tidur, ga punya baju ganti untuk esok hari, ga punya uang untuk beli makan, ga punya paru-paru yang sehat untuk bernapas, berapa banyak permintaan yang keluar dari mulut kita...?? (confused) bisa dower deh minta mulu... (laughing)

Mungkin aku cuma pengen intro-speksi, melihat ke diri, dan pengen juga ngajak teman semua buat melihat ke diri sendiri. Seberapa banyak yang sudah kita lakukan untukNya, dan seikhlas apa, dibandingkan dengan seberapa banyak yang sudah kita mintakan kepadaNya, dan semaksa apa. Iya, semaksa, seperti "Tuhan, kok sampai sekarang saya masih ga punya anak? temen-temen yang sudah nikah, cepet kok punya anak.", "Tuhan, kok aku ga dapet-dapet kerjaan yah? padahal aku ga lebih bego dari temenku yang uda dapet kerja.", atau "Tuhan, kenapa di saat aku kesulitan, kok ga ada sama sekali petunjuk atau bantuan dariMu?" dan masih banyak lagi.

Aku pernah dapat pengajaran kira-kira seperti ini... :
Saat itu, ada badai hebat yang menyerang desa. Seorang guru ngaji lari ke daratan yang paling tinggi, sampai rumah-rumah sekelilingnya telah terendam banjir. Ketika itu, si guru berdoa, "Tuhan tolong selamatkan nyawaku.." (praying) Semakin lama, ketinggian air terus meningkat. Daratan yang bisa dipijak si guru juga semakin sempit. (waiting) Lalu tiba-tiba ada penduduk yang memiliki perahu karet. Ia mendekati si guru, "Pak Ustadz, ayo naik.." Lalu ia bilang, "Tidak, aku sedang menunggu pertolongan dari Tuhanku." (no talking) Akhirnya si penduduk itu meninggalkan guru itu.
Doa diucapkan lagi, "Tuhan... airnya sudah semakin tinggi... tolong selamatkan aku... " (praying) (nail biting) Tiba-tiba ada suara helikopter. Ternyata SAR. Petugas SAR mendekat dan meminta si guru untuk naik. Tapi si guru menolak mentah-mentah, bahkan tidak mau dipaksa oleh si petugas SAR. (no talking) Maka, petugas SAR pun berlalu untuk menyelamatkan orang-orang lain yang masih bisa terselamatkan.
Si guru berdoa lagi, "Tuhan... tolong aku.... kakiku sudah menyentuh air... dan gelombangnya juga semakin kencang..." (praying) (at wits' end) Lalu ada sebalok kayu pohon yang terombang-ambing mendekati si guru. Walau si guru bisa menggunakannya untuk mengambang dengan kayu itu, ia tetap tidak mau menjangkaunya. Ia tetap diam di tanah yang ia injak. (no talking)
Si guru benar-benar kecewa, "Tuhaannnnnnnn.... kenapa Engkau tega... dengan segitu banyak ibadah yang aku lakukan... kenapa Engkau tidak menolongku... air sudah mencapai pinggangku Tuhan... aku tidak mau mati.." (crying) dan Tuhan menjawab, "Aku sudah memberimu bermacam pertolongan, Aku mendengar doamu, tapi semua jawabanKu tidak kauhargai..."

Hmf... rasanya banyak sekali permintaan yang terucap, sampe-sampe terasa sungkan, karena semua yang kita butuh, yang kita akan minta, sudah diketahui duluan, namanya juga Maha Tahu... (tongue) karena itu, seringkali rasanya cukup dengan berdoa,
Tuhan, maafkan atas segala kemanusiaanku.. (karena yang membuat kita berbuat salah, kemanusiaan kita.
Mohon berikan hamba petunjukMu dan berikan hamba pengertian untuk memahami petunjukMu.. (karena tanpa ada pengertian, mau dikasi petunjuk berapa kali, juga kaga bakalan ngerti-ngerti..)
Berikan hamba kekuatan atas segala cobaan dan masalah yang terjadi.. (karena setiap orang pasti dicoba, jadi percuma minta "Tuhan, hindarkan hamba dari cobaan", setiap orang pasti punya masalah.. jadi lebih baik dikuatkan aja deh, hehehe)
Amin

Dan bahkan segala yang kita butuhkan sudah terucap saat shalat... Seperti halnya sikat gigi, kebanyakan dari kita menyikat gigi hanya agar gigi harum dan terasa bersih, seperti mandi. Tapi kalau saja kita sikat gigi secara menyeluruh, sampai mengenai gusi, mulut bagian dalam, dan disikat dengan arah yang benar, bukan saja harum, tapi bener-bener bersih, dan sehat, tahan terhadap kuman penyakit. Pokoknya jadi top markotop! (thumbs up) Shalat juga begitu, rasanya akan beda kalau dilakukan sepenuh hati. Begitu bukan.. bukan begitu?? (big grin) walau kadang aku juga susah banget belajar untuk sepenuh hati.. balik lagi, karena kemanusiaan / human being.

Yah.. aku juga bukan manusia yang sempurna, jauhhhhh banget dari sempurna. Tapi mengutip dari kata seorang Ustadz, "Give Him the best that you can, and He will give you the best that He can" indah banget yah... (happy) maka semua yang kita punya rasanya ga ada artinya lagi selain ridhoNya. That will be enough. It will be always enough. It'd be never felt that it never been enough...

nyok shalat bentar...

Saturday, September 05, 2009

Hijab itu...

I wanna cry to write this. Tepat setahun niat berhijab akhirnya terlaksana.. Alhamdullilah (happy) semoga bisa selamanya.
Bukan maksud aku untuk jadi orang yang terlihat benar, tapi ini hanya sekadar sharing, ga lebih.. (jarang-jarang nulis pake 'aku', jadi kagok, hahaha (rolling on the floor))

Setahun lalu, ada satu keinginan yang kuatt.. sekali. Dipicu dari keinginan itu, aku melirik peluang untuk ber-nazar (tau kan yah? semacam janji ke Tuhan, kalau keinginan kita dikabulin, maka kita akan melakukan sesuatu.. CMIIW), siapa tau kesampean, huehehe.. (big grin) Entah kenapa, yang terbersit di pikiran itu, berhijab..

Dan memang selama beberapa tahun terakhir setelah terjun ke dunia kerja, aku ga ngerasa nyaman dengan bagaimana orang melihat, terutama lawan jenis. Yah jujur aja, rasanya kaya di-scan. Belum lagi komentar-komentar yang aku pikir itu ga etis diucapkan, bagian-bagian fisik dikomentarin tanpa batas. Aku pun ngerasa seperti tertampar (bukan lagi tertegur, tapi tertampar!(feeling beat up)), "lo sendiri bagaimana berpakaiannya..??" yah memang salah aku juga kali yah, yang mungkin terlalu cuek jadi orang..

Dari yang niatnya cuma biar keinginan terbesar aku waktu itu dikabulkan.. aku mulai tertarik, aku lirik-lirik, bagus bener temen-temen yang uda hijab, rapih, rasanya aman dan dihormati. Selama aku memperhatikan, seyogyanya laki-laki yang tau bersikap, pastinya malu punya mata yang kaya scanner untuk perempuan yang jelas-jelas berhijab, "jelas-jelas gw menutup aurat, berarti kalau kalian laki-laki yang tau sikap, pastinya punya malu untuk melihat dengan cara seperti 'itu'." (shame on you) kira-kira seperti itu.. Ga percaya?! coba perhatikan kalau lagi di jalan-jalan, atau di bus. Gimana mata laki-laki sekeliling kalau ada cewek lewat. Ga usa yang cantik-cantik banget, cukup yang rambutnya terurai, sama kaos ketat. Langsung deh di-scan.. parah yah (no talking) kalau kita jadi perempuan itu.. dan kebetulan kita sadar, jadinya ga nyaman.. ya kalaupun cewek berhijab yang diliatin (maksudku berhijab yah, ga cuma berjilbab), aku yakin 95% mereka bukan scanning, tapi berpikir positif, inget sama ibadah.. (kalau mereka muslim). just think positively..

Lalu, aku mulai memperhatikan bagaimana orang-orang yang berhijab, bagaimana aku memulai, dan bagaimana setelah itu.. apa aku bisa tahan untuk selamanya?! (thinking) Karena aku waktu itu masih ga yakin bisa bertahan lama untuk hijab. Apalagi aku cepet stress kalo kegerahan.. aku dulu masih berpikir jilbab itu bikin gerah juga..

Kemudian ada 1 rekan kerja yang akhirnya berhijab. Waktu kita pulang bareng, beliau cerita bagaimana jalan pikirannya mengenai hijab yang beliau lakukan waktu bulan puasa. Dimulai dari keseharian kalau datang pengajian, sampai mengumpulkan jilbab satu persatu. Dibarengin hal itu, ada 1 rekan kerja lagi yang bertanya, kok aku ga pake jilbab, padahal diwajibkan untuk perempuan muslim.. Aku ga kaget karena dia pria, aku ga marah karena merasa dikuliahin, tapi aku malah salut karena itu ditanyakan dengan jujur. Bahkan dia bersedia minta tolong kakak perempuannya untuk membantu aku kalau aku butuh bantuan memilih pakaian/jilbab (thumbs up) Aku memang nunggu momen untuk ngumpulin pakaian yang cukup menutup dan beberapa jilbab, masa pake jilbab tapi bajunya masih nunjukin semua lekuk.. apalagi jujur aja, dibandingkan orang kurus, lebih susah untuk orang gemuk memilih baju tertutup. ngerti lha yah.. hehehe

Berangkat dari hal itu, aku beli sekitar 3 jilbab dan mulai memilah-milah pakaian yang secukupnya tertutup. Beli baju baru kan mahal.. jadi mesti nabung dulu (laughing) Tapi satu hal yang paling mengganggu pikiran, apa yang terjadi setelah itu. Apa aku bisa menjaga niat ini terus? Bagaimana dengan pandangan lingkungan sekitar?? Bagaimana perlakuan mereka.. Karena sebelumnya, aku berpikir, hijab itu membatasi. Nanti malah banyak yang menjauh.. dikira fanatik atau sok alim.. atau ada pikiran yang bersifat mengadili.. kalau pake jilbab, harus bersikap gini gitu, ga boleh ini itu.. Apalagi aku orangnya ga suka ribet, pakaian sejadinya. Tapi aku pikir lagi, toh niatnya baik, sesuai seperti keinginan-Nya, insyaAllah lancarrrrr... (praying) Yang mengejutkan lagi, setelah aku mulai berhijab, banyak yang malah memberi support, dari hadiah-hadiah jilbab dan pakaian. Rejeki juga mulus-mulus aja, menghadapi masalah bisa lebih tenang, walau kadang masih terasa panik.. namanya juga belajar. hehe (smug)

Awalnya, terasa memang yang namanya keterbatasan. Apalagi waktu ganti baju di tempat ganti baju wanita. Kebanyakan perempuan yang tidak hijab, rasanya ringkas. Tapi aku?? rasanya ribet banget.. (nail biting) "istighfar, lam.." Lama-lama, rasanya nyaman.. yah ga sampe beberapa minggu.. Setelah beberapa hari uda nyaman sekali, malah bukan keterbatasan, tapi freedom! Salah besar kalau hijab membatasi, justru yang aku rasa, bebas-bebas aja tuh bergerak, ga ada yang matanya kaya scanner lagi. bebas-bebas aja mau kemana-mana, insyaAllah aman.. dan ga perlu lagi mikirin rambut berantakan ketiup angin, kena debu jadi kusut, lalu rontok gara-gara panas! (thumbs up) alah.. males banget harus mikirin rambut berantakan kaya singa (whew!) dan rasa gerah?? engga tuh.. wajar aja kalo cuacanya emang panas, ya gerah.. biasa aja. Malah kalau hijab, toh rambut juga diikat ga menyentuh leher, jadi ga gerah toh, asik toh?! enak toh?! hahahaha (laughing)

Terlepas dari itu wajib atau tidak, yang utama buat aku, kebutuhan. Sebenernya sudah lama Tuhan tau kalau manusia membutuhkan, karena itu diwajibkan. Tapi sayangnya kita sering sadar terlambat, bahwa kita butuh.
Nah, bukannya niatnya turun, malah makin lama makin terdorong untuk tantangan berikutnya. Shalat pengennya penuh (walau kadang masih sempet bolong.. (crying) mulai pengen menghafal lebih dari 3-4 ayat, dan ga cuma lafal, pengennya juga bisa ngerti artinya.. karena menurutku, ilmu yang paling benar, yah ada di Al-Qur'an semua.. dodolnya gw, uda tua gini baru mau belajar.. (laughing) dan target lainnya. Jadi, ini cuma awal... Yang pasti, rasanya sekarang bebas banget! (dancing) menyesal?! engga banget, malahan happy, satisfied, hehehe. Just think simply for something great and act, because it's just nothing if we're not doing that.

Selamat berpuasa.. mohon maaf lahir batin.. semoga puasa dan ibadahnya maksimal! (happy)

N.B.
btw, pinjam foto baby-nya yah, anak siapa pun ini.. lucu bener (big grin)

Monday, August 24, 2009

Belajar di Negeri Jauh

Bicara tentang beasiswa S2 ke luar negeri, mengingatkan saya ke 2 orang yang menarik. Kebanyakan mahasiswa atau bahkan pelajar biasa, baik yang basic-nya research maupun siswa yang penting waktu lulus bisa dapat kerja dan bisa cari duit, berminat untuk bisa mendapat beasiswa S2 ke luar negeri, termasuk yang nulis (winking). Terlepas dari tujuan utamanya, entah belajar ke pusat ilmu pengetahuan semacam Eropa atau tempat businessman yang bergengsi dan sukses semacam Amerika, ataupun jalan-jalan, karena dengan belajar ke luar negeri berarti membuka mata terhadap tempat dan budaya baru, sehingga secara ga langsung memperkaya diri.
Kembali ke 2 orang itu, 1 dari jurusan sastra, dan satu dari jurusan science, (dirahasiakan). Dua-duanya berasal dari ilmu pengetahuan yang berharga. Sastra malah bisa dibilang sumber dari ilmu pengetahuan, bukan sekadar budaya (seorang guru SMA pernah menjelaskannya).
Profil pertama, si sastrawan yang mendapat beasiswa 2 kali ke Jerman, "banyak orang yang bilang, wah hebat lo bisa ke Jerman, dapet beasiswa lagi. padahal ga seindah itu.." Cerita dari keinginannya belajar budaya dan bahasa Jerman, berujung ke keadaan bagaimana dia harus mengusahakan segala detil yang dituntut sempurna, seperti pengucapan, dialek, pemahaman, pemilihan kata, sampai banyak hal membuat kemuakan dalam dirinya, hasrat belajar menguap banyak dari dirinya. Namun, rasanya sudah terlanjur basah untuk melangkah ke hal lain. Dan jadinya, keputusasaan.
Profil kedua, si ilmuwan yang mendapat beasiswa ke negara di Eropa. Si tokoh ini benar-benar mengejutkan karena ga dinyana kalau ia mau menceritakan hal yang tidak ditanyakan, tapi untuk pembelajaran saya sendiri. Saat kita bicara ketertarikan saya untuk bisa berbeasiswa S2 ke Eropa, ia menceritakan bagaimana di saat ia menuntut ilmu, ternyata ia harus kehilangan hal yang sangat berharga untuknya, ibu. Kehilangan yang terjadi di depan mata saja sudah berat, apalagi di tempat yang jauh yang untuk sementara tidak dapat dijangkau. Karena itu pilihannya, pulang dengan beberapa resiko, atau terus menuntut ilmu dengan hati yang hancur. Menangis tidak bisa, menikmati impiannya juga tidak bisa.
Dari 2 cerita itu saja, sempat membuka mata saya apakah sebegitu berharganya kesenangan semacam itu yang bahkan belum bisa dilihat kemungkinan setelah itu. Kekayaan akan ilmu toh tidak hanya dari bangku kuliah. Kesenangan akan adventure toh juga tidak hanya dari penerbangan dan visa gratis ke berbagai negara, dengan makna bahwa saya ga punya uang apa-apa selain beasiswa, sedangkan keluarga di ujung sana bisa jadi kelaparan.
Jadi... kalau ditanya sekarang, walaupun diberikan gratis tanpa harus ada usaha besar, saya perlu berpikir lama lagi dan bahkan mengatakan, cukup deh. Cerita dari tokoh kedua cukup menjadi tamparan yang berharga. Salut untuk kesediaannya. Semua jatuh pada pilihan pribadi masing-masing. Perlu ada alasan yang setara berharganya untuk diperbandingkan atas semua yang ada di depan mata... well, itu untuk saya pribadi (big grin)