Monday, August 24, 2009

Belajar di Negeri Jauh

Bicara tentang beasiswa S2 ke luar negeri, mengingatkan saya ke 2 orang yang menarik. Kebanyakan mahasiswa atau bahkan pelajar biasa, baik yang basic-nya research maupun siswa yang penting waktu lulus bisa dapat kerja dan bisa cari duit, berminat untuk bisa mendapat beasiswa S2 ke luar negeri, termasuk yang nulis (winking). Terlepas dari tujuan utamanya, entah belajar ke pusat ilmu pengetahuan semacam Eropa atau tempat businessman yang bergengsi dan sukses semacam Amerika, ataupun jalan-jalan, karena dengan belajar ke luar negeri berarti membuka mata terhadap tempat dan budaya baru, sehingga secara ga langsung memperkaya diri.
Kembali ke 2 orang itu, 1 dari jurusan sastra, dan satu dari jurusan science, (dirahasiakan). Dua-duanya berasal dari ilmu pengetahuan yang berharga. Sastra malah bisa dibilang sumber dari ilmu pengetahuan, bukan sekadar budaya (seorang guru SMA pernah menjelaskannya).
Profil pertama, si sastrawan yang mendapat beasiswa 2 kali ke Jerman, "banyak orang yang bilang, wah hebat lo bisa ke Jerman, dapet beasiswa lagi. padahal ga seindah itu.." Cerita dari keinginannya belajar budaya dan bahasa Jerman, berujung ke keadaan bagaimana dia harus mengusahakan segala detil yang dituntut sempurna, seperti pengucapan, dialek, pemahaman, pemilihan kata, sampai banyak hal membuat kemuakan dalam dirinya, hasrat belajar menguap banyak dari dirinya. Namun, rasanya sudah terlanjur basah untuk melangkah ke hal lain. Dan jadinya, keputusasaan.
Profil kedua, si ilmuwan yang mendapat beasiswa ke negara di Eropa. Si tokoh ini benar-benar mengejutkan karena ga dinyana kalau ia mau menceritakan hal yang tidak ditanyakan, tapi untuk pembelajaran saya sendiri. Saat kita bicara ketertarikan saya untuk bisa berbeasiswa S2 ke Eropa, ia menceritakan bagaimana di saat ia menuntut ilmu, ternyata ia harus kehilangan hal yang sangat berharga untuknya, ibu. Kehilangan yang terjadi di depan mata saja sudah berat, apalagi di tempat yang jauh yang untuk sementara tidak dapat dijangkau. Karena itu pilihannya, pulang dengan beberapa resiko, atau terus menuntut ilmu dengan hati yang hancur. Menangis tidak bisa, menikmati impiannya juga tidak bisa.
Dari 2 cerita itu saja, sempat membuka mata saya apakah sebegitu berharganya kesenangan semacam itu yang bahkan belum bisa dilihat kemungkinan setelah itu. Kekayaan akan ilmu toh tidak hanya dari bangku kuliah. Kesenangan akan adventure toh juga tidak hanya dari penerbangan dan visa gratis ke berbagai negara, dengan makna bahwa saya ga punya uang apa-apa selain beasiswa, sedangkan keluarga di ujung sana bisa jadi kelaparan.
Jadi... kalau ditanya sekarang, walaupun diberikan gratis tanpa harus ada usaha besar, saya perlu berpikir lama lagi dan bahkan mengatakan, cukup deh. Cerita dari tokoh kedua cukup menjadi tamparan yang berharga. Salut untuk kesediaannya. Semua jatuh pada pilihan pribadi masing-masing. Perlu ada alasan yang setara berharganya untuk diperbandingkan atas semua yang ada di depan mata... well, itu untuk saya pribadi (big grin)